Kompas.com - 26/07/2019, 14:26 WIB
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

KOMPAS.com - Berbicara tentang Jakarta, salah satu yang paling kita ingat mungkin polusinya.

Kemarin pagi (25/7/2019) sekitar pukul 6.00 WIB, data AirVisual situs penyedia peta polusi online harian kota-kota besar di seluruh dunia, menunjukkan Nilai Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta berada di 201 atau masuk kategori sangat tidak sehat.

Bahkan, Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang berfungsi mengukur Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di KLHK, GBK, Jakarta menunjukkan, kualitas udara ibu kota tidak sehat sejak pukul 24.00 WIB, Kamis (25/7/2019).

"Data KLHK pun, (bisa dilihat di link http://iku.menlhk.go.id/aqms/pm25) sejak jam 12.00 malam tadi (udara) tidak sehat dengan angka PM 2,5 di atas 100 ug/m3," ujar Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Kamis (25/72/2019).

Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Sangat Buruk Sejak Tengah Malam hingga Pagi Ini

Berkaitan dengan kualitas udara yang ternyata memburuk sejak jam 24.00 WIB, Bondan menduga ini ada kaitannya dengan cuaca.

"Selain cuaca, bisa jadi kalau asumsinya di jam tersebut tidak ada kendaraan (tidak macet) artinya, ada sumber pencemar lain. DKI kan juga bilang kalau selain transportasi ada sumber lain," ungkap Bondan.

Berkaitan dengan faktor cuaca yang menimbulkan masalah polusi udara pada malam hari di Jakarta, Kepala Subbidang Prediksi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Agie Wandala Putra menjelaskan kondisi atmosfer di Jakarta belakangan.

Jika Anda tinggal di Jakarta atau pernah tinggal di ibu kota, mungkin sudah tidak asing dengan pemandangan langit Jakarta yang bergradasi, antara biru dan putih kelabu.

Agie menjelaskan, langit Jakarta dengan warna putih kelabu sebenarnya adalah polutan.

"Layer warna putih kelabu itu polutan sebenarnya. Udara kering yang menyatu dengan asap kendaraan, cerobong asap, dan lain-lain," ungkap Agie kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Jumat (26/7/2019).

Berdasarkan data BMKG kemarin, Agie mengatakan kualitas udara di Jakarta tidak seburuk sebelumnya.

Data ini didapat dari alat bernama radiosonde (rason) yang dilepas setiap jam 9.00 sampai 10.00 pagi di dekat Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Rason berguna untuk mengukur tekanan, suhu, arah, kelembapan, dan kecepatan angin. Dari sinilah, BMKG dapat melihat karakter atmosfer langit Jakarta pada hari itu seperti apa.

"Jadi karakter berdasarkan atmosfernya sedang memiliki inversion layer atau lapisan inversi. Ini saya bicara atmosfer ya, bukan polutan," ungkap Agie.

Lapisan inversi merupakan lapisan batas antara udara kering dan udara lembap.

Agie mengatakan, daerah-daerah yang memiliki lapisan inversi menandakan, asap atau polutan sulit terurai di atmosfer.

Apakah lapisan inversi bisa dilihat dengan mata telanjang?

Bisa. Jika Anda pergi ke Jakarta menggunakan pesawat di siang hari, pada saat pesawat akan mendarat tampak lapisan batas di langit yang berwarna biru dan putih kelabu.

Hal ini juga bisa dilihat dari gedung-gedung pencakar langit, misalnya gedung perkantoran atau apartemen.

"Kalau ada lapisan inversi, ini menandakan polutan yang ada di sekitar Jakarta lebih susah terurai daripada hari-hari di musim hujan," jelas Agie.

"Jadi sebetulnya, karakter seperti ini lazim di musim kemarau. Ini karena (saat kemarau), udara sangat kering mengakibatkan ada lapisan inversi," imbuh Agie.

Selain itu, ketika Anda melihat lapisan inversi di langit manapun, maka awan kumulus yang berbentuk seperti bunga kol akan sulit ditemukan.

"Kalau ada awan kumulus, polutan dan asap akan mudah terurai ke atmosfer," ujar Agie.

Baca juga: Soal Polusi Jakarta, Greenpeace Minta Pedoman Pengukuran ISPU Direvisi

Agie mengatakan, umumnya kondisi ini terjadi pada pagi menjelang siang hari saat orang-orang mulai berangkat bekerja atau pergi sekolah.

"Makanya udara-udara enggak sehat menjelang jam 9 sampai 10-an," ujar Agie.

Untuk itu, Agie mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan bisa menggunakan masker jika dirasa sangat memerlukannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Oh Begitu
Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Oh Begitu
Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Oh Begitu
Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Fenomena
3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

Oh Begitu
Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Oh Begitu
Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.