Kompas.com - 24/04/2019, 16:10 WIB
Seorang petugas medis memberikan vaksin measles-rubella (MR) pada bayi di sebuah pos kesehatan di Banda Aceh, Rabu (19/9/2018). Terkait polemik kehalalan imunisasi MR, Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh merujuk pada fatwa MUI memutuskan penggunaan vaksin MR di Aceh diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan tidak memaksakan bagi masyarakat yang tidak setuju anaknya diimunisasi. AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDINSeorang petugas medis memberikan vaksin measles-rubella (MR) pada bayi di sebuah pos kesehatan di Banda Aceh, Rabu (19/9/2018). Terkait polemik kehalalan imunisasi MR, Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh merujuk pada fatwa MUI memutuskan penggunaan vaksin MR di Aceh diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan tidak memaksakan bagi masyarakat yang tidak setuju anaknya diimunisasi.

KOMPAS.com - Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut masalah vaccine hesitancy atau keragu-raguan melakukan vaksinasi sebagai masalah kompleks yang muncul karena beberapa hal.

Vaccine hesitancy bisa disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap perawatan kesehatan, ketidaknyamanan dalam mengakses vaksin, atau rendahnya kepercayaan terhadap vaksin itu sendiri.

Meski terdapat banyak bukti ilmiah tentang keamanan vaksin dan ahli medis di seluruh dunia menegaskan bahwa vaksin efektif mencegah virus penyakit, tapi sejumlah orang tetap memegang keyakinan bahwa vaksin berbahaya dan justru dapat menimbulkan masalah lain seperti autisme.

Lantas, dari mana pemahaman itu muncul dan meluas?

Baca juga: Tak Usah Didebat Lagi, Vaksin MMR Tidak Ada Hubungannya dengan Autisme

Melansir Healio edisi Februari 2011, ketakutan akan vaksinasi meluas setelah  penelitian dokter spesialis bedah Andrew Wakefield terbit di jurnal Lancet pada 1998.

Dengan melibatkan 18 sampel, Wakefield mengklaim bahwa vaksin campak, gondong, dan rubella (MMR) menyebabkan 12 anak mengembangkan gejala autis.

Atas kesimpulan tersebut, terang saja studi Wakefield segera menimbulkan kontroversi di kalangan orangtua dan dokter.

12 tahun kemudian hasil penelitian Wakefield dicabut dari jurnal ilmiah karena terbukti "palsu". Meski begitu, kepercayaan yang sudah tertanam pada sebagian orang tidak bisa dilepas begitu saja.

Studi yang dirilis British Medical Journal (BMJ) dengan judul "Secrets of the MMR scare: How the case against the MMR vaccine was fixed" mengungkap bahwa studi Wakefield tidak jujur dan tidak bertanggung jawab. Mereka menemukan data yang dipakai Wakefield palsu.

Studi BMJ mencoba memaparkan bagaimana Wakefield melakukan penipuan ilmiah. Para ilmuwan yang terlibat dalam studi ini melakukan investigasi dengan wawancara serta mengulas dokumen dan data yang dipublikasikan di sidang General Medical Council (GMC).

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Sumber Healio
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.