Kompas.com - 06/03/2019, 17:02 WIB
Seorang petugas medis memegang botol yang berisi vaksin measles-rubella (MR) di sebuah pos kesehatan di Banda Aceh, Rabu (19/9/2018). Terkait polemik kehalalan imunisasi MR, Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh merujuk pada fatwa MUI memutuskan penggunaan vaksin MR di Aceh diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan tidak memaksakan bagi masyarakat yang tidak setuju anaknya diimunisasi. AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDINSeorang petugas medis memegang botol yang berisi vaksin measles-rubella (MR) di sebuah pos kesehatan di Banda Aceh, Rabu (19/9/2018). Terkait polemik kehalalan imunisasi MR, Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh merujuk pada fatwa MUI memutuskan penggunaan vaksin MR di Aceh diperbolehkan jika dalam kondisi darurat dan tidak memaksakan bagi masyarakat yang tidak setuju anaknya diimunisasi.

KOMPAS.com - Studi dengan jumlah sampel lebih dari 650.000 anak-anak Denmark yang dilakukan selama satu dekade memiliki kesimpulan seperti studi sebelumnya bahwa vaksin untuk penyakit gondong, campak dan rubella (MMR) terbukti tidak meningkatkan risiko autisme pada anak.

Penelitian ini melibatkan anak-anak yang lahir antara 1999 hingga 2013. Ahli membandingkan anak yang divaksinasi dan tidak divaksinasi yang didiagnosis autisme, tapi tidak menemukan perbedaan.

"Kami tidak menemukan vaksin MMR dapat meningkatkan risiko autisme pada anak-anak di Denmark," kata peneliti dilansir AFP, Rabu (6/3/2019).

Baca juga: WHO: Kasus Campak di Dunia Meningkat, Perangi dengan Vaksin

Studi yang terbit di jurnal Annals of Internal Medicine, AS itu dilakukan oleh para ilmuwan dari Statens Serum Institute, Universitas Copenhagen, dan Stand University School of Medicine.

Kesimpulan dalam studi mereka sama seperti studi 2002 yang melibatkan 537.000 anak-anak Denmark.

Selain studi tersebut, para ahli juga telah mengamati 10 studi lain yang membahas tentang vaksin anak, di mana enam di antaranya tentang vaksin MMR. Hasilnya, tak ada satupun studi yang menemukan hubungan antara vaksinasi dan autisme.

Satu-satunya penelitian yang menyebut ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme adalah studi tahun 1998.

Hingga saat ini para kelompok antivaksin masih sering mengutip temuan itu untuk mengklaim bahwa vaksin MMR dapat memicu autisme.

Padahal, studi itu telah ditarik oleh jurnal medis yang menerbitkannya. Sementara penulis yang memalsukan hasilnya harus menerima konsekuensi untuk kehilangan lisensi medisnya.

Baca juga: Balada Ethen Lindenberger, Hadapi Orangtua Penganut Antivaksin

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.