Pertama di Dunia, Pasien HIV Sukses Donorkan Ginjalnya

Kompas.com - 01/04/2019, 19:04 WIB
Ilustrasi ginjalShutterstock Ilustrasi ginjal

KOMPAS.com - Ahli bedah di Rumah Sakit Johns Hopkins berhasil mentransplantasikan ginjal dari seorang pasien HIV positif ke penerimanya yang juga merupakan penderita HIV.

Kesuksesan ini merupakan terobosan medis yang akan memberikan harapan untuk ketersedian organ dan membantu mengubah persepsi mengenai HIV.

Sekarang, pendonor bernama Nina Martinez berusia 35 tahun serta penerima donor yang tidak disebutkan namanya sedang dalam tahap pemulihan.

Selama ini orang dengan HIV telah menghadapi tantangan untuk bisa menjadi penerima maupun menjadi pendonor ginjal. Barulah pada tahun 2016, Rumah Sakit Johns Hopkins melakukan tranplantasi, Namun, donor ginjal berasal dari orang yang sudah meninggal.

Baca juga: Mengenal Alasan di Balik Transplantasi Ginjal Selena Gomez

Martinez merupakan pendonor hidup pertama yang sukses melakukan transplantasi.

Meski begitu, pusat transplantasi organ sempat ragu untuk memberikan organ Martinez karena takut secara tidak sengaja justru menginfeksi penerima dengan virus atau mempercepat timbulnya AIDS pada orang tersebut.

Dokter berpikir obat-obatan yang diberikan untuk mencegah penolakan organ memungkinkan HIV untuk menyerang lebih banyak sel-sel tubuh dan menyebabkan penyakit ini makin tak terkendali.

Namun, akhirnya proses itu bisa berjalan dengan lancar. Penerima donor tidak perlu lagi melakukan dialisis ginjal dan bisa memiliki harapan hidup 20 hingga 40 tahun.

Dorrey Segev, salah satu ahli bedah Johns Hopkins yang melakukan transplantasi organ, mengatakan bahwa operasi itu tidak berbeda dengan transplantasi donor hidup lainnya yang telah ia lakukan karena HIV Martinez dikontrol dengan sangat baik oleh obat antiretroviral.

Setelah itu pun, Martinez dan penerima akan tetap menggunakan obat antiretroviral tanpa batas waktu untuk mengendalikan HIV mereka.

Dikarenakan mereka mungkin memiliki jenis virus serta resistensi yang berbeda terhadap pengobatan HIV, dokter terus memantau penerima dengan cermat dalam beberapa bulan setelah transplantasi.

Baca juga: Awas, Obesitas Bisa Melemahkan Fungsi Ginjal

Martinez sendiri tertular HIV dari transfusi darah yang dilakukan ketika bayi. Pada tahun 1983, Martinez dan saudara kembarnya lahir prematur di San Jose. Kedua bayi ini mengalami anemia dan dibawa ke rumah sakit untuk transfusi darah dan Martinez pun terinfeksi.

Ia dan keluarganya tidak menyadari sampai diperiksa sebelum operasi mata pada usia 8 tahun. Martinez pun mengalami perundungan ketika sekolah.

Saat seorang teman dengan HIV-positif membutuhkan ginjal, Martinez pun serius dengan gagasan tersebut. Ia mencoba menghubungi Rumah Sakit Johns Hopkins untuk menjadi sukarelawan tes yang memungkinkannya menjadi donor pertama.

Itulah mengapa ia merasa berharga ketika bisa mendonorkan ginjalnya.

"Orang dengan HIV tidak bisa menyumbangkan darah, tetapi sekarang mereka dapat menyumbangkan ginjal dan memberikan kehidupan untuk orang lain," tambah Segev.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X