Kompas.com - 21/03/2019, 17:02 WIB
Gambar permukaan asteroid Ryugu yang diambil robot penjelajah Hayabusa 2 Gambar permukaan asteroid Ryugu yang diambil robot penjelajah Hayabusa 2


KOMPAS.com - Puing-puing asteroid Ryugu diketahui kaya mineral terhidrasi yang dapat membantu memecahkan misteri bagaimana Bumi memiliki air, kata para ilmuwan pada Selasa (19/3), seperti dilansir kantor berita AFP.

Asteroid Ryugu berjarak sekitar 300 juta tahun dari Bumi dan diperkirakan berusia antara 100 juta dan satu miliar tahun. Menurut hasil pengamatan dari satelit Jepang, asteroid ini tampaknya telah terlepas dari tubuh induknya.

Kohei Kitazato dari Universitas Aizu di Fukushima, mengatakan kepada AFP bahwa gambar yang diambil oleh satelit Hayabusa2 menunjukkan mineral terhidrasi yang mengandung jejak air dalam struktur kristal banyak ditemukan di permukaan asteroid Ryugu.

"Asteroid seperti Ryugu dianggap sebagai sumber potensial air di Bumi, jadi kami berharap bahwa hasil kami dan analisis sampel Ryugu di masa depan akan memberikan wawasan baru tentang asal-usul air di bumi," katanya.

Baca juga: Jepang Umumkan Rencana Meledakkan Asteroid Ryugu

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa meteorit atau benda luar angkasa serupa dari sabuk asteroid tata surya, mungkin menjadi sumber munculnya air di Bumi.

Pemindaian yang dilakukan pada batu yang berbentuk seperti putaran puncak setinggi kira-kira 3,2 kilometer di sekitar garis khatulistiwa menunjukkan bagian dalamnya sangat berpori.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tim dibalik beberapa studi tentang asteroid yang diterbitkan dalam jurnal Sains, mengatakan hal itu menunjukkan bahwa asteroid tersebut telah kehilangan kelembapannya seiring waktu.

"Skenario utama kami mengindikasikan bahwa tubuh induk Ryugu dulu memiliki lebih banyak air dan kemudian kehilangan sebagian besar kadar airnya," kata Sheji Sugita, salah satu penulis studi tersebut.

Dia mengatakan tubuh induk Ryugu berusia sekitar 4,6 miliar tahun atau berasal dari masa paling awal pembentukan tata surya.

Pada Februari, Badan Eksplorasi Luar Angkasa Jepang mengatakan satelit Hayabusa2 berhasil mendarat di permukaan Ryugu, melepaskan peluru ke permukaannya dan mengumpulkan debu sebelum kembali ke posisi awalnya.

Baca juga: Pesawat Antariksa Jepang Tinggalkan Jejak di Asteroid Ryugu

Hayabusa2, yang berukuran sebesar kulkas, melakukan perjalanan selama tiga setengah tahun untuk mencapai bebatuan ruang angkasa.

Bulan depan Hayabusa2 akan menembakkan "penabrak" untuk meledakkan material dari bawah permukaan Ryugu. Kondisi tersebut memungkinkan pengumpulan bahan segar yang tidak terpapar oleh angin dengan masa ribuan tahun dan radiasi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X