Soal Stunting dan Kematian Ibu di Indonesia, Ini Solusi Para Cawapres

Kompas.com - 17/03/2019, 21:16 WIB
Calon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin (dua kiri), Ketua KPU Arief Budiman (tengah), dan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno (dua kanan) menyanyikan lagu Indonesia Raya pada pembukaan debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Peserta debat ketiga kali ini adalah cawapres masing-masing paslon dengan tema yang diangkat adalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Calon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin (dua kiri), Ketua KPU Arief Budiman (tengah), dan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno (dua kanan) menyanyikan lagu Indonesia Raya pada pembukaan debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Peserta debat ketiga kali ini adalah cawapres masing-masing paslon dengan tema yang diangkat adalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya.


KOMPAS.com - Masalah stunting dibahas dalam debat pilpres putaran ketiga yang dilakukan calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin dan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno.

Ma'ruf Amin menjanjikan dia dan pasangannya Joko Widodo dapat menurunkan angka stunting sampai 10 persen dalam lima ke depan sehingga mencapai titik 25 persen minimal.

Hal ini menurutnya bisa dilakukan dengan peningkatan akses kesehatan, pengobatan dan perbaikan layanan kesehatan.

Baca juga: Jangan Sampai Orang Bicara AI, tapi Kita Masih Stunting

"Kami akan mendorong upaya yang sifatnya prefentif dan program Indonesia sehat yang pendekatannya keluarga, dan mendorong konsumsi hal-hal tidak sehat demi kesehatan ibu dan anak dan untuk mencegah stunting," ungak Ma'ruf Amin.

"Kami berjanji akan menurunkan angka stunting sampai 10 persen sehingga sampai (titik) 25 persen minimal," ujarnya.

"Kami yakin jumlah orang sakit akan berkurang dengan dua hal tersebut," imbuhnya.

Sementara itu, Sandiaga Uno mengatakan bahwa untuk mengatasi stunting hal konkret yang perlu dilakukan adalah membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya lebih mengutamakan  masyarakat dan meningkatkan kualitas di posyandu maupun sekolah.

"Kami meyakini kalau ibu-ibu, perempuan hebat yang terlibat di Posyandu ditambah anggaran dan kesejahteraannya, mereka bisa menurunkan angka kematian ibu yang masih di atas 300," ujar Sandi.

"Kami juga yakin gizi anak-anak lebih baik kalau kita menyiapkan program yang bersinergi dengan sistem pendidikan, di mana TK dan SD menyiapkan susu atau tablet susu dan juga kacang hijau seperti di Jakarta, sehingga permasalahan stunting bisa  diselesaikan secara cepat," tutup Sandi.

Baca juga: Rapor Indonesia untuk Kematian Ibu dan Bayi Jeblok, Ini 7 Faktanya



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X