Kompas.com - 15/03/2019, 09:08 WIB
Salah satu naskah kuno dalam bentuk digital yang dikembalikan Inggris ke Keraton Yogyakarta. Ini adalah Babad Jayalengkara. (Keraton Yogyakarta) Salah satu naskah kuno dalam bentuk digital yang dikembalikan Inggris ke Keraton Yogyakarta. Ini adalah Babad Jayalengkara. (Keraton Yogyakarta)

KOMPAS.com - Selama masa penjajahan, ribuan catatan sejarah yang dimiliki Indonesia dirampas ke Eropa, termasuk 7.000-an naskah kuno milik Keraton Yogyakarta.

Selama sepuluh tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono X berjuang membawa pulang naskah tersebut.

Bertepatan dengan peringatan 30 tahun Sultan bertakhta sejak 7 Maret 1989, setidaknya 75 manuskrip telah dikembalikan oleh pihak British Library ke Keraton Yogyakarta.

Jumlah ini jauh dari seharusnya. Meski begitu, pihak Keraton menyambut bahagia pulangnya mata rantai yang terputus sejak Geger Sepehi itu.

Baca juga: 5 Fakta Sejarah Majapahit, Kerajaan Terbesar di Nusantara

"Keraton sebagai pusat kebudayaan tidak pernah berhenti memproduksi maupun mereproduksi ilmu pengetahuan," ujar GKR Hayu dalam Simposium Internasional di Yogyakarta, Selasa (5/3/2019), seperti dikutip dari situs web resmi Keraton Yogyakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Namun demikian, ada mata rantai yang terputus saat peristiwa Geger Sepehi. Untuk itulah, kami mengundang para akademisi, praktisi, dan peneliti untuk berdiskusi sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari Keraton Yogyakarta."

Kekalahan besar Keraton dan hilangnya naskah

Seperti disinggung GKR Hayu, manuskrip atau naskah kuno Keraton lenyap setelah peristiwa Geger Sepehi  207 tahun silam. Apa itu Geger Sepehi?

Istilah ini merujuk ke peristiwa Juni 1812 ketika bala pasukan Inggris menyerang Keraton Yogyakarta yang kembali dikuasai Sri Sultan Hamengku Buwana II.

Setahun sebelumnya, pasukan Inggris telah mengalahkan pemerintahan Belanda di Batavia dan merebut kekuasaan wilayah Jawa. Gubernur Jenderal Inggris di Kalkuta, Lord Minto, menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur di Jawa. Era transisi ini dimanfaatkan oleh Sultan HB II untuk kembali menguasai Keraton Yogyakarta.

Setelah menjabat, Raffles menunjuk John Crawfurd sebagai residen Yogyakarta. Raffles juga membuat kebijakan baru terkait tanah dan pengelolaan uang. Namun bagi Sri Sultan HB II, kebijakan baru ini sama merugikannya dengan kebijakan Daendels ketika Belanda berkuasa.

Sultan pun menentang kedatangan Inggris dan merancang perlawanan. Raffles melihat ini sebagai ancaman dan mengirim Kolonel Robert Rollo Gillespie dan pasukan untuk menyerang Keraton.

Prasasti geger sepehi. Pertempuran dua hari antara Keraton Yogyakarta dan Inggris ini mengubah wajah Yogyakarta. Kekalahan yang dialami Keraton Yogyakarta membuat Inggris berhasil merampas 7.000-an naskah kuno Keraton. (Keraton Yogyakarta) Prasasti geger sepehi. Pertempuran dua hari antara Keraton Yogyakarta dan Inggris ini mengubah wajah Yogyakarta. Kekalahan yang dialami Keraton Yogyakarta membuat Inggris berhasil merampas 7.000-an naskah kuno Keraton. (Keraton Yogyakarta)
Serangan dan negosiasi awal dari Inggris dilakukan, tetapi Sri Sultan HB II masih bertahan. Pada 19 Juni 1812, serangan demi serangan kecil ke Keraton dilakukan oleh pasukan Inggris. 

Pada hari berikutnya, pertempuran utama terjadi. Setelah tembakan meriam pada dini hari, serangan besar-besaran datang mulai pukul lima pagi. Bala pasukan Inggris meliputi tentara Eropa, Sepoy atau Spei (India), serta Legiun Mangkunegaran.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Oh Begitu
Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.