Jauh di Dalam Laut, Hidup "Hewan Pembantu" Penyaring Plastik

Kompas.com - 05/03/2019, 13:22 WIB
Hewan pembantu yang ditemukan ilmuwan Israel di bagian terdalam Laut Merah. Makhluk ini bisa membersihkan plastik dengan tentakelnya. Hewan pembantu yang ditemukan ilmuwan Israel di bagian terdalam Laut Merah. Makhluk ini bisa membersihkan plastik dengan tentakelnya.

KOMPAS.com - Para ilmuwan dari Universitas Tel Aviv, Israel, menemukan hewan "pembantu" di laut dalam, saat mereka sedang mengamati dampak plastik di Laut Merah.

Hewan pembantu itu sangat kecil dan kerap disebut sea squirt atau semprot laut.

Hewan mungil itu menjadi mangsa makhluk laut lain dan bisa ditemukan di mana saja. Secara ilmiah mereka termasuk keluarga ascidia.

"Hewan laut kecil ini hanya tinggal di satu tempat sepanjang hidupnya dan menyaring air laut. Jadi, pada dasarnya ibarat sebuah pompa menyaring apa pun yang masuk, apa pun yang terjadi di lautan selama hidupnya (akan disaring)," kata Gal Vered.

Baca juga: Adakah Hewan yang Tidak Tidur Sama Sekali?

Seiring sampah plastik yang terus mengotori laut di seluruh penjuru dunia, sea squirt membantu membersihkan berbagai plastik melalui sistem tubuhnya.

Vered bersama rekannya Noa Shenkar mempelajari hewan laut  itu untuk melihat bagaimana sampah-sampah plastik di lautan berdampak pada kehidupannya.

"Kami mempunyai sistem penyaringan handal ini (sea squirt), yang memungkinkan partikel-partikel kecil masuk ke dalam tubuhnya. Kita bisa menggunakan organisme yang sama, spesies yang sama yang berada di wilayah geografis berbeda. Pada akhirnya, berbicara mengenai evolusi, hewan laut kecil itu terkait erat dengan manusia," kata Noa Shenkar.

Jadi, bagaimana hewan laut jelly kecil ini bisa seperti manusia?

Noa Shenkar menjelaskan manusia dan hewan laut golongan ascidia tersebut sama-sama bertulang belakang walau tidak kelihatan sama secara fisik. Namun demikian keduanya memiliki sistem tubuh yang mirip.

Sebuah laporan dari Pusat Hukum Lingkungan Internasional yang baru-baru ini dikeluarkan memperingatkan bahwa plastik berdampak pada kesehatan manusia dalam banyak hal.

Laporan itu mendesak dunia mengambil sejumlah langkah pencegahan untuk melawan penumpukan besar-besaran sampah plastik sekali pakai di seluruh dunia.

Suatu upaya yang digagas oleh Vered dari Universitas Tel Aviv.

Baca juga: Kebun Binatang London Bagikan Hasil Rontgen Hewan

"Seluruh keberhasilan produk berbahan plastik menunjukkan bahwa sampah plastik itu tetap ada dan hal itu bisa terus berlangsung. Sangat lucu ketika kita, sebagai manusia penemu bahan atau materi yang dapat bertahan hingga ratusan bahkan ribuan tahun, justru menggunakannya sebagai produk sekali pakai. Ini merupakan paradoks,” tambahnya.

Tapi sebagaimana persisnya tumpukan sampah plastik yang terus bertambah itu berdampak pada alam sekitar termasuk kita manusia, masih menjadi suatu misteri. Suatu misteri yang mungkin hewan laut kecil, sea squirt bisa membantu menjawabnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X