Punya Antibeku dalam Darah, Ikan Ini Hidup di Area Terdingin Bumi

Kompas.com - 27/02/2019, 18:39 WIB
Ikan es sirip hitam Antartika mampu hidup di lingkungan terdingin Bumi dan kuat pada suhu di bawah titik beku air tawar. Ikan es sirip hitam Antartika mampu hidup di lingkungan terdingin Bumi dan kuat pada suhu di bawah titik beku air tawar.


KOMPAS.com - Ikan es sirip hitam dari Antartika (Chaenocephalus aceratus) adalah hewan luar biasa yang habitatnya di laut terdingin Bumi. Spesies ini mampu bertahan hidup di bawah titik beku air tawar atau di bawah 0 derajat celsius.

Selain bisa hidup di bawah titik beku air tawar, C. aceratus juga punya keunikan lain. Spesies itu tidak memiliki hemoglobin atau sel darah merah. Setidaknya spesies ini merupakan satu-satunya vertebrata yang tidak punya hemoglobin.

Daya tarik itulah yang kemudian membuat para ilmuwan penasaran dan ingin mencari tahu evolusinya.

Untuk itu, tim peneliti Internasional memetakan lebih dari 30.000 gen ikan C. aceratus, lengkap dengan genomnya.

Baca juga: Lagi, Ikan Pertanda Gempa dan Tsunami Tertangkap di Jepang

Proyek ini bertujuan memahami bagaimana hewan berevolusi agar bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrem seperti di Antartika.

Seperti disinggung di atas, ikan C. aceratus merupakan satu-satunya vertebrata yang tidak memiliki gen hemoglobin. Ini artinya, tubuh mereka tidak menghasilkan sel darah merah yang membawa oksigen ke dalam darah sehingga darahnya berwarna putih pekat.

Mereka bisa disebut mengalami anemia terus menerus. Seperti diketahui, anemia adalah gangguan yang terjadi saat tubuh kekurangsan sel darah merah atau hemoglobin (protein spesifik yang mengikat oksigen).

Selain tak punya sel darah merah, ikan itu juga memiliki hati berukuran besar dan tulang dengan kepadatan mineral.

Kalau hal ini dialami manusia, besar kemungkinan dokter akan menyimpulkan bahwa pasien menderita penyakit atau kelainan.

Walau hal ini aneh untuk kita, tapi semua karakteristik tersebut diyakini ahli sangat penting untuk kelangsungan hidup para ikan es.

Sebuah studi yang berusia 77 tahun mengungkap subordo ikan es Notothenioidei menyimpang dari garis keturunan dan menghasilkan ikan stickleback. Sejak evolusi itu terjadi, ikan es diketahui memiliki beberapa fitur penting.

Icefish mengembangkan mekanisme yang tampaknya mengkompensasi hilangnya protein pengikat oksigen, termasuk jantung yang sangat besar dengan peningkatan volume stroke relatif terhadap ukuran tubuh, peningkatan sistem vaskular, dan perubahan dan morfologi (struktur tubuh),” tulis para penulis dalam studi yang terbit di jurnal Nature Ecology & Evolution.

Melansir Newsweek, Selasa (26/2/2019), evolusi itu menguntungkan mereka untuk mengembangkan kemampuan untuk memproduksi protein yang berfungsi sebagai “antibeku”.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X