Temuan Lebah Raksasa Maluku, Oasis di Tengah Penurunan Serangga Global

Kompas.com - 27/02/2019, 10:44 WIB
Lebah raksasa Wallace difoto oleh Clay Bolt di luar rumahnya. Spesies yang telah menghilang selama 40 tahun ini ditemukan di kepulauan Maluku. Lebah raksasa Wallace difoto oleh Clay Bolt di luar rumahnya. Spesies yang telah menghilang selama 40 tahun ini ditemukan di kepulauan Maluku.

KOMPAS.com - Kabar ditemukannya kembali lebah raksasa Wallace atau lebah pluto (Megachile pluto) di Maluku Utara segera menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan, khususnya bidang zoologi.

Lebah yang punya mandibula atau rahang bawah sangat besar ini pertama kali ditemukan Alfred Russel Wallace pada 1859. Barulah pada 1861 dideskripsikan dan diberi nama oleh Frederick Smith.

Bagi ahli serangga, ditemukannya lebah Wallace kembali adalah sebuah harapan baru di tengah cepatnya penurunan keanekaragaman jenis dan populasi serangga secara global.

Baca juga: Sembunyi Hampir 40 Tahun, Lebah Terbesar di Dunia Ditemukan di Maluku

Menilik ke belakang, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) mencatat lebah Wallace hanya terlihat kurang dari sepuluh kali dalam 200 tahun terakhir, yakni pada 1863, 1951, 1953, 1981, dan 1991.

Koleksi yang diperoleh disimpan di beberapa museum besar dunia, antara lain di Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat.

"Kendati jenis asli dan endemik Indonesia, namun koleksi ilmiah lebah raksasa Wallace belum tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai pusat depositori nasional sekaligus museum zoologi terbesar di Asia Tenggara," jelas Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joeni Setijo Rahajoe, dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (26/2/2019).

Joeni menjelaskan, dari 29.794 nomer koleksi bangsa Hymenoptera (lebah, tawon dan semut) terdapat 4.368 nomer koleksi lebah (Apidae).

Namun hanya beberapa koleksi lebah dari marga Megachile, yang memiliki mandibula besar, diantaranya Megachile clotho, M. lachesis, M. catinifrons, dan M. disjuncta.

"Hal ini yang akan menjadi perhatian kami untuk dapat memprioritaskan penemuan jenis-jenis langka dan endemik agar dapat menjadi referensi ilmiah bagi masyarakat Indonesia dan internasional," jelas Joeni. 

Lebah raksasa Wallace yang terbesar di dunia ditemukan di Maluku setalah hampir 40 tahun menghilang. Lebah raksasa Wallace yang terbesar di dunia ditemukan di Maluku setalah hampir 40 tahun menghilang.
Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi mengungkapkan, pada tahun 2018 jenis ini ditemukan kembali dan dipublikasikan di Journal of Insect Conservation dan dilaporkan juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kemudian di bulan Januari 2019 penemuan jenis ini kembali dilaporkan dalam Global Wildlife Conservation dari Maluku Utara.

"Lebah ini rentan terhadap perburuan dan kepunahan. Pengambilan koleksi lebah raksasa dengan tidak memperhatikan keberadaan sarang dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup dari generasi lebah berikutnya sehingga meningkatkan resiko kepunahan jenis," ujar Cahyo.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X