Serpihan Batu Permata Langka Ditemukan pada Fosil Gigi Kuno

Kompas.com - 10/01/2019, 12:32 WIB
Gambar fosil gigi yang mengandung serpihan batu permata. Gambar fosil gigi yang mengandung serpihan batu permata.

Dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances, para penulis menyatakan bahwa temuan ini adalah bukti paling awal yang menunjukkan wanita beragama di Jerman menggunakan pigmen biru laut untuk menghasilkan karya.

Untuk benar-benar memahami seberapa besar dan menarik temuan ini, kita perlu mengetahui bahwa ratusan tahun yang lalu lapis lazuli umumnya dihancurkan dan dimurnikan untuk menciptakan pigmen biru laut yang berkilau.

Ditambang dari satu daerah di Afganistan dan diperdagangkan lebih dari ribuan kilometer ke seluruh Eropa dan Asia, batu permata ini sangat mahal.

Sebab itu, tinta dari bahan ini sangat eksklusif dan hanya ditemukan dalam naskah mewah, yang ditulis oleh penulis atau pelukis paling berbakat. Salah satunya pelukis wanita yang menjilat kuasnya itu.

"Kita mempunyai bukti tentang seorang wanita yang tidak hanya melukis tapi ia melukis dengan pigmen sangat langka dan mahal, di tempat yang sangat terpencil," kata penulis senior Christina Warinner, ahli evolusi mikrobioma kuno dari Institut Max Planck.

Baca juga: Alasan Fosil Monster Laut Berusia 200 Juta Tahun Kejutkan Peneliti

Berkat temuan ini dan banyak bukti lainnya, para ahli menyimpulkan bahwa wanita religius di Jerman dan Austria berperan aktif dalam produksi buku di masa lalu.

Bahkan beberapa sejarawan sekarang berpikir bahwa banyak wanita di awal abad ke-8 yang menjadi ahli Taurat dan ilustrator.

Sebuah komunitas biarawati di Salzburg misalnya menyalin lebih dari 200 buku dari koleksi abad ke-12. Sementara seorang penulis wanita yang tinggal di Bavaria pada abad ke-12 diyakini telah melahirkan lebih dari 40 buku.

"Namun karena sedikit jejak yang ditinggalkan para penulis wanita, mereka (juru tulis wanita) tetap tidak terlihat jelas dalam catatan sejarah dan kemungkinan sebagian besar tulisan mereka tidak dikenali," tulis para ahli.

Semoga para penulis wanita tidak terabaikan selamanya. Jika lebih banyak pigmen biru laut ditemukan dalam penemuan arkeologi lainnya, para sejarawan mungkin akan memiliki metode untuk mengidentifikasi seniman dan penulis yang aktif memproduksi buku di Abad Pertengahan.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X