Serpihan Batu Permata Langka Ditemukan pada Fosil Gigi Kuno

Kompas.com - 10/01/2019, 12:32 WIB
Tinta dengan pigmen biru laut yang berasal dari serpihan batu permata langka ditemukan di fosil plak gigi seorang wanita paruh baya Jerman. Tinta dengan pigmen biru laut yang berasal dari serpihan batu permata langka ditemukan di fosil plak gigi seorang wanita paruh baya Jerman.

KOMPAS.com - Belum lama ini tim arkeolog Jerman menemukan sesuatu yang sangat langka dan jarang terjadi, yaitu adanya serpihan halus dari pigmen lapis lazuli dalam fosil gigi seorang wanita abad pertengahan.

Lapis lazuli merupakan batu permata langka yang sangat berharga sejak zaman dulu karena memiliki warna biru yang sangat cantik.

Menariknya lagi, temuan ini melahirkan beberapa asumsi tentang sejarah produksi buku.

Apa hubungannya kedua hal tersebut?

Baca juga: Penuh Batu Permata, Bumi Super Baru Ditemukan Ilmuwan Eropa

Sebelum membahas lebih lanjut tentang temuan lapisan batu permata di fosil gigi seorang wanita dari Abad Pertengahan, mari kita menilik kehidupan di masa itu.

Melansir Science Alert, Kamis (10/1/2019), para sejarawan awal berasumsi bahwa buku-buku yang diproduksi pada Abad Pertengahan hanya ditulis dan diilustrasikan oleh ahli Taurat dan seniman laki-laki.

Hal ini lantaran nama atau jejak perempuan sangat langka dalam pembuatan teks di masa itu.

Namun belakangan asumsi tersebut dikaji ulang oleh para ahli. Satu persatu bukti yang mengungkap peran wanita Abad Pertengahan dalam pembuatan naskah kuno muncul.

Ini menandakan perempuan pada masa lalu tidak hanya melek huruf, tetapi ikut aktif dan terjun langsung di dalamnya.

Fakta ini semakin diperkuat dengan temuan ilmuwan dari Max Planck Institute dan University of York, yakni adanya tinta berwarna biru laut yang bersembunyi di dalam plak gigi seorang wanita paruh baya yang dikubur di sebuah biara wanita di Jerman sekitar tahun 1000-1200 M.

Setelah menganalisis lebih lanjut, ahli menduga wanita itu mungkin adalah seorang pelukis berpengalaman dari teks-teks agama yang iluminasi.

"Berdasarkan distribusi pigmen di mulutnya, kami menyimpulkan bahwa kemungkinan yang paling mendekati adalah saat ia melukis, ia juga sesekali menjilat ujung kuasnya," jelas salah satu penulis, Monica Tromp, seorang ahli mikrobioarchaelogist dari Institut Ma Planck.

Dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances, para penulis menyatakan bahwa temuan ini adalah bukti paling awal yang menunjukkan wanita beragama di Jerman menggunakan pigmen biru laut untuk menghasilkan karya.

Gambar fosil gigi yang mengandung serpihan batu permata. Gambar fosil gigi yang mengandung serpihan batu permata.
Untuk benar-benar memahami seberapa besar dan menarik temuan ini, kita perlu mengetahui bahwa ratusan tahun yang lalu lapis lazuli umumnya dihancurkan dan dimurnikan untuk menciptakan pigmen biru laut yang berkilau.

Ditambang dari satu daerah di Afganistan dan diperdagangkan lebih dari ribuan kilometer ke seluruh Eropa dan Asia, batu permata ini sangat mahal.

Sebab itu, tinta dari bahan ini sangat eksklusif dan hanya ditemukan dalam naskah mewah, yang ditulis oleh penulis atau pelukis paling berbakat. Salah satunya pelukis wanita yang menjilat kuasnya itu.

"Kita mempunyai bukti tentang seorang wanita yang tidak hanya melukis tapi ia melukis dengan pigmen sangat langka dan mahal, di tempat yang sangat terpencil," kata penulis senior Christina Warinner, ahli evolusi mikrobioma kuno dari Institut Max Planck.

Baca juga: Alasan Fosil Monster Laut Berusia 200 Juta Tahun Kejutkan Peneliti

Berkat temuan ini dan banyak bukti lainnya, para ahli menyimpulkan bahwa wanita religius di Jerman dan Austria berperan aktif dalam produksi buku di masa lalu.

Bahkan beberapa sejarawan sekarang berpikir bahwa banyak wanita di awal abad ke-8 yang menjadi ahli Taurat dan ilustrator.

Sebuah komunitas biarawati di Salzburg misalnya menyalin lebih dari 200 buku dari koleksi abad ke-12. Sementara seorang penulis wanita yang tinggal di Bavaria pada abad ke-12 diyakini telah melahirkan lebih dari 40 buku.

"Namun karena sedikit jejak yang ditinggalkan para penulis wanita, mereka (juru tulis wanita) tetap tidak terlihat jelas dalam catatan sejarah dan kemungkinan sebagian besar tulisan mereka tidak dikenali," tulis para ahli.

Semoga para penulis wanita tidak terabaikan selamanya. Jika lebih banyak pigmen biru laut ditemukan dalam penemuan arkeologi lainnya, para sejarawan mungkin akan memiliki metode untuk mengidentifikasi seniman dan penulis yang aktif memproduksi buku di Abad Pertengahan.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X