Kompas.com - 25/11/2018, 17:00 WIB

Di situs tersebut para arkeolog menemukan sekitar 70 buah oker dengan berat sekitar lima kilogram.

Namun, bukti yang lebih meyakinkan tentang penggunaan okre ada di situs Neanderthal awal Maastricht-Belvédère di Belanda yang diperkirakan berusia 250.000 tahun.

Menurut studi yang terbit tahun 2012 di jurnal PNAS, sejak 1980 para arkeolog Belanda telah menggali konsentrat kecil dari mineral merah.

Neanderthal mungkin telah mencampur bubuk oker dengan air yang digunakan untuk melukis kulit dan pakaian mereka.

Selain di situs itu, para arkeolog juga menemukan sejumlah lukisan dari oker yang dibuat Neanderthal di sejumlah gua.

Ini termasuk pola sidik jari linier di La Pasiega, Spanyol Utara, kemudian stensil tangan di Maltravieso di Spanyol barat-tengaj, dan stalaktit yang dicat merah berkilau putih di Ardales, Spanyol Utara.

Menurut laporan studi yang terbit di jurnal Science edisi 2018, semuanya berusia sekitar 64.000 tahun.

Homo sapiens awal juga menggunakan oker. Misalnya di gua Blombos, Afrika Selatan, para arkeolog menemukan sebuah cangkang abalone yang mengandung oker dan arang berusia sekitar 100.000 tahun.

Sejarah mencatat, gambar buatan tangan manusia yang paling awal adalah hashtag berwarna merah pada serpihan batu kecil yang berasal sekitar 73.000 tahun lalu di gua Blombos.

Sementara itu, gambar cadas tertua adalah lukisan banteng liar yang dibuat dengan oker berusia sekitar 40.000 tahun yang ditemukan Pindi dan timnya di Kalimantan.

Setelah masa awal situs ini, lukisan oker meluas sampai ke Afrika, Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, Rusia dan Australia.

Ketika orang-orang menyeberangi jembatan Selat Bering dari Siberia dan Asia Timur ke Benua Amerika, orang-orang itu juga menggunakan oker. Hal ini dibuktikan oleh temuan pemakaman yang mengandung oker di Alaska, usianya sekitar 11.500 tahun.

Menurut Pettitt, adanya pemakaman yang tertutup oker adalah lumrah. Hal ini mungkin karena pakaian orang yang meninggal diwarnai dengan oker, kemudian pakaian itu hancur dan oker meninggalkan jejak di kuburan dan tulang.

Salah satu kuburan ini termasuk Red Lady of Paviland yang terkenal di South Wales, di Inggris. Ini sebenarnya adalah kuburan seorang pria muda yang hidup di masa Paleolitik sekitar 33.000 tahun yang lalu.

Namun karena kuburan ini ditemukan pada 1823, arkeolog saat itu mengira bahwa makam itu merupakan makam seorang perempuan.

Baca juga: 6 Perbedaan Lukisan Dinding Tertua di Kalimantan dan Sulawesi

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.