Kompas.com - 16/10/2018, 18:06 WIB
Salah satu rumah milik warga di Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Sumenep, yang ambruk setelah terjadi gempa pada Kamis (11/10/2018) dini hari. Dok Kecamatan GayamSalah satu rumah milik warga di Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Sumenep, yang ambruk setelah terjadi gempa pada Kamis (11/10/2018) dini hari.


KOMPAS.com - Hari ini, Harian Kompas menerbitkan ulasan tentang sejarah kerentanan gempa yang pernah mengguncang Indonesia, khususnya Bali dan Jawa sebagai pulau terpadat penduduk di Indonesia.

Gempa bermagnitudo 6,4 yang mengguncang Situbondo pada Kamis (11/10/2018) dini hari mengingatkan kita bahwa riwayat gempa bumi merusak dapat berulang kapan saja.

Kejadian gempa atau lindu yang berpusat sekitar 35 kilometer arah selatan Pulau Supadi, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur itu menewaskan tiga orang. Semua korban tewas karena tertimpa bangunan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) dengan kemiringan bidang sesar ke arah selatan.

Baca juga: Gempa Usai Hujan Mulai, Ancaman Palu Kini Banjir Bandang dan Longsor

Kepada Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menduga gempa bersumber dari sesar naik Flores yang sebelumnya memicu rentetan gempa di Lombok.

Sesar naik Flores memanjang dari utara Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, hingga utara Bali.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Rangkaian Gempa akibat Sesar Naik Flores yang dicatat oleh BMKG terjadi sejak 1815. Bagi Lombok, ini adalah gempa pertama akibat Sesar Naik Flores. Rangkaian Gempa akibat Sesar Naik Flores yang dicatat oleh BMKG terjadi sejak 1815. Bagi Lombok, ini adalah gempa pertama akibat Sesar Naik Flores.
Catatan gempa Bali dan Flores

Sesar naik Flores terdiri dari beberapa segmen yang bertanggungjawab terhadap sejumlah gempa besar diikuti tsunami, seperti yang terjadi di Flores pada 1992 dan utara Bali pada 1815.

Tsunami Flores yang terjadi 26 tahun lalu menewaskan sekitar 2.000 jiwa dan mungkin masih diingat sebagian orang. Namun, tsunami Bali pada 1815 barangkali sudah hampir sirna dari ingatan, tak terkecuali bagi masyarakat Bali sendiri.

Dalam katalog gempa bumi di Kepulauan Indonesia periode 1538-1877 yang disusun Arthur Wichman (1918), gempa Bali 1815 terjadi pada 22 November sekitar pukul 10 malam dan diikuti tsunami.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.