NASA: Gelembung Metana di Danau Arktik adalah Kabar Buruk

Kompas.com - 17/09/2018, 18:35 WIB
Gelembung Metana di danau Arktik. Nasa menjelaskan hal ini merupakan kabar buruk bagi perubahan iklim kita. (News Week) Gelembung Metana di danau Arktik. Nasa menjelaskan hal ini merupakan kabar buruk bagi perubahan iklim kita. (News Week)

KOMPAS.com – Muncul gelembung metana di Danau-danau Alaska dan Siberia. Bagi para ilmuwan, pelepasan gas rumah kaca yang sangat kuat ini merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Bulan lalu, NASA membagikan sebuah rekaman yang menunjukkan gelembung metana muncul di danau Arktik. Fenomena ini terjadi ketika permafrost atau lapisan es abadi yang telah membeku selama ribuan tahun tiba-tiba mencair lebih cepat dari yang diperkirakan.

Para ilmuwan sebenarnya telah lama mengetahui bahwa saat permafrost mencair akan berpotensi melepaskan metana dalam jumlah besar ke atmosfer. Itu karena unsur organik yang lama terkurung di bawah tanah mencair dan akan terurai, melepaskan karbon dan metana (hidrokarbon) dalam prosesnya.

Para ilmuwan berpendapat, jika semua unsur organik itu dilepaskan ke atmosfer maka dampaknya terhadap perubahan iklim akan sangat besar. Total ada sekitar 1.500 miliar ton karbon terkurung di permafrost, angka tersebut hampir dua kali lipat jumlah karbon di atmosfer saat ini.

Baca juga: Sekjen PBB Serukan Upaya Penanganan Perubahan Iklim

Metana juga dianggap dapat menyebabkan tanah tidak kokoh. Bila pencairan permafrost terus berlanjut, kota-kota yang ada di sekitarnya dikhawatirkan bisa tenggelam.

Dalam penelitian yang didanai NASA dan telah terbit di jurnal Nature Communications, para ahli menemukan sumber metana yang belum diperhitungkan dalam model iklim berasal dari danau "thermokarst".

Danau thermokarst terbentuk saat permafrost mendadak mencair lebih cepat dan lebih dalam ke tanah dari biasanya. Pencairan menciptakan depresi, yang kemudian diisi dengan air hujan, es, dan salju cair. Air kemudian mempercepat laju pencairan permafrost di tepi danau.

"Dalam beberapa dekade Anda bisa mendapatkan lubang pencairan yang sangat dalam, dari hanya beberapa meter hingga puluhan meter," kata Katey Walter Anthony, dari University of Alaska Fairbanks, dilansir Newsweek, Kamis (14/9/2018).

Anthony dan timnya melakukan pengukuran pada 11 danau thermokarst dan menggunakan model komputer untuk menunjukkan bahwa dampak dari pencairan permafrost akan meningkat lebih dari dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

Mereka menemukan gelembung metana muncul di 72 titik pada danau yang dikaji, kemudian mereka mengukur jumlah gas yang dikeluarkan oleh lapisan es di bawah air. Lalu mereka membandingkannya dengan pencairan permafrost yang terjadi secara normal di danau Arktik.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Newsweek
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X