Kuburan Massal Mumi Penguin Ungkap Masa Depan Iklim Kita - Kompas.com

Kuburan Massal Mumi Penguin Ungkap Masa Depan Iklim Kita

Kompas.com - 11/09/2018, 19:10 WIB
Koloni penguin Adelie yang baru ditemukan di Kepulauan DangerMichael Polito, © Louisiana State University Koloni penguin Adelie yang baru ditemukan di Kepulauan Danger

KOMPAS.com – Tahukah Anda bahwa di Long Peninsula sebelah timur Antartika, ada sebuah kuburan raksasa kuno?

Namun, yang bersemayam di sini bukanlah manusia. Terkubur di bawah berlapis-lapis sendimennya adalah ratusan mumi penguin Adelie (Pygoscelis adeliae) yang mati secara massal sekitar 750 tahun lalu dan 200 tahun lalu.

Dipublikasikan dalam Journal of Geophysical Research: Biogeosciences, para peneliti menyelidiki mumi penguin yang mayoritas masih anak-anak, beserta sedimen, feses dan bahan-bahan bersarang mereka yang tertinggal.

Hasilnya menunjukkan bahwa penguin mati karena salju lebat atau hujan deras yang terjadi selama beberapa dekade. Kondisi ini menyebabkan kebanjiran, erosi, dan hilangnya habitat penguin untuk bersarang.

Baca juga: Dianggap Sebagai Hewan Setia, Penguin Ternyata juga Bisa Selingkuh

Namun yang lebih mengejutkan adalah penyebab utama dari kondisi tersebut. Hasil penyelidikan para peneliti menunjukkan adanya perubahan pada pola angin di Samudera Selatan yang meniupkan udara basah ke Antartika Timur atau Southern Annular Mode.

Udara yang basah ini meningkatkan kelembapan, sesuatu yang sangat buruk bagi kesehatan anak-anak penguin yang belum memiliki cukup bulu. Akibatnya, anak-anak penguin sakit, mengalami hipotermia, dan mati.

Tebalnya salju juga membuat induk penguin kesulitan mencari kerikil dan habitat bagi sarang mereka.

Kuburan massal yang berisi mumi penguinYuesong Gao, Lianjiao Yang et al Kuburan massal yang berisi mumi penguin

Masalah di masa depan

Ini bukan sekadar masalah di masa lalu. Para peneliti berkata bahwa perubahan iklim bisa menyebabkan kejadian tersebut berulang.

Baca juga: Populasi Penguin di Antartika Menurun Drastis Hingga 88 Persen

“Tren iklim terbaru di Antartika, termasuk pola udara yang berubah dan kelembapan yang meningkat, menunjukkan bahwa risiko kejadian mortalitas penguin kemungkinan akan lebih sering terjadi,” tulis para peneliti.

Perlu Anda ketahui bahwa setelah kedua kejadian sekitar 200 tahun dan 750 tahun yang lalu, kematian massal penguin akibat hujan dan salju lebat juga terjadi pada 2013 dan 2017. Pada kejadian tahun 2017, hanya dua dari 40.000 anak penguin yang berhasil selamat.


Pada saat ini, sekitar sepertiga dari seluruh penguin Adelie yang ada di dunia atau sekitar 45.000 pasang hidup di 250 titik yang tersebar di Long Peninsula.

Jumlah mereka memang mulai meningkat, tetapi penguin-penguin ini masih sangat rentan terhadap perubahan Southern Annular Mode.

Komentar
Close Ads X