Kompas.com - 20/07/2018, 12:33 WIB
Ular Xiaophis myanmarensis yang terperangkap dalam amber atau resin pohon live scienceUlar Xiaophis myanmarensis yang terperangkap dalam amber atau resin pohon

KOMPAS.com - Nasib sial menimpa seekor ular yang baru saja menetas dan merangkak keluar dari telurnya. Bukannya tumbuh besar, ular tersebut justru terperangkap resin pohon yang mengeras atau batu ambar dan menjadikannya fosil.

Namun bukan berarti kehidupan singkat ular itu menjadi sia-sia. Setelah 99 juta tahun kemudian, fosilnya justru ditemukan di Myanmar dan menghadirkan bukti menarik tentang nenek moyang ular modern yang hidup jutaan tahun lalu.

Fosil yang ditemukan tersebut sangat kecil. Ukurannya hanya sekitar 47,5 milimeter, tanpa kepala, dan memiliki sekitar 97 tulang. Meski begitu para peneliti mampu mengidentifikasinya sebagai spesies baru.

Baca juga: Inilah Ibu dari Semua Kadal dan Ular, Usianya 240 Juta Tahun

Para peneliti menamai spesies baru tersebut Xiaophis myanmarensis dan percaya bahwa itu terkait dengan beberapa ular modern di Asia Tenggara.

"Hal menarik lain ada fitur yang sangat unik dari bagian atas tulang belakang yang belum pernah terlihat sebelumnya pada fosil ular lain yang sejenis," kata Michael Caldwell, paleontolog dari University of Alberta, dilansir Live Science, Rabu (18/7/2018).

Selain berisi fosil ular kecil, ternyata potongan ambar yang ditemukan juga menyimpan potongan kulit yang diyakini oleh peneliti berasal dari ular yang lebih besar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hanya saja mereka tidak bisa memastikan apakah ular tersebut berasal dari spesies yang sama atau berbeda.

Sementara remahan organik lain yang juga terperangkap ternyata masih menawarkan detail berharga tentang habitat ular kuno tersebut.

"Batu ambar mengumpulkan segala sesuatu di dekatnya dan mengurung semuanya seperti lem super dalam waktu lama, bahkan bisa mencapai ratusan juta tahun," kata Caldwell.

Baca juga: Kenapa Ular dan Katak Panah Tidak Mati karena Racunnya Sendiri?

Jadi, selain mengurung ular resin pohon yang kemudian mengeras juga mengawetkan serasah atau bahan organik mati berupa ranting, kotoran, dan, dan lainnya yang ada di hutan.

"Kita tidak hanya memiliki bayi ular pertama, tapi kita juga memiliki bukti definitif pertama ular yang hidup di hutan," tambah Caldwell.

Myanmar sendiri merupakan tempat yang bagus untuk menemukan mahluk purba yang terjebak dalam amber. Juni lalu saja, peneliti lain juga menemukan katak kecil yang merupakan fosil katak tertua di hutan hujan tropis. Belum lagi penemuan burung, bunglon, semut vampire dan bahkan dinosaurus berbulu yang juga ditemukan di Myanmar.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Science Advances, Rabu (18/7/2018).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.