Kisah Romo Marselus Hasan, Terangi NTT dengan Energi Terbarukan

Kompas.com - 04/05/2018, 21:06 WIB
Romo Marselus Hasan, pendeta penerang desa-desa di NTT. Shela KusumaningtyasRomo Marselus Hasan, pendeta penerang desa-desa di NTT.

KOMPAS.com - “Di NTT itu banyak kekurangan, salah satunya akses listrik. Jadi warga desa mengalami banyak kesulitan,” ujar Romo Marselus Hasan yang baru saja menerima apresiasi Pejuang Air Ades, di Jakarta, Kamis (3/5/2018).

Ditemui oleh Kompas.com sesudahnya, Marselus bercerita bahwa akses listrik yang minim juga dirasakan oleh umat Paroki Santo Damian, di Desa Bea Muring, Kecamatan Poco Ranaka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Untungnya, Romo yang diutus untuk melayani paroki tersebut sejak tahun 2011 tersebut tidak tinggal diam menyaksikan penderitaan 8000 umat Katolik di sana. Ia lantas bertekad untuk mengaplikasikan ajaran gereja yang selama ini dia terima.

“Apa yang dialami umat juga jadi masalah gereja,” ujarnya.

Menurut Marselus, sudah saatnya warga di desa tersebut terentaskan dari kegelapan. Pasalnya, sejak kemerdekaan hingga kedatangannya, cahaya lampu seolah jadi barang langka dan mahal di sana.

Baca juga : Jalan Pertobatan Pemburu Duyung dari Desa Air Glubi

“Warga tiap malam harus pakai generator yang cuma bisa menyalakan listrik selama empat jam,” ujarnya.

Sudah begitu, generator termasuk mesin yang mudah rusak. Jadi, hampir tiap hari dia berkutat dengan perbaikan generator.

Untuk menghidupkan generatornya pun, kata Marselus, warga mesti menganggarkan biaya Rp 30.000 per malam untuk membeli dua botol solar atau bensin, sehingga generator hanya bisa dinikmati oleh warga yang mampu saja. Jika tak sanggup beli generator dan bahan bakarnya, warga terbiasa hidup berkawan dengan gulita.

“Dalam sebulan, tiap kepala keluarga sudah habis Rp 900.000 rupiah. Ini terbilang boros,” katanya.

Warga juga mesti menghadapi dampak buruk lain dari dioperasikannya generator. Getar generator yang saling bersahut antar rumah menimbulkan kebisingan dan membikin polusi suara.

Tak hanya itu, warga ibarat kenyang menghirup akumulasi kepulan asap buangan generator. Jika terus dibiarkan, bahaya mengintai warga dari sisi kesehatan. “Bayangkan satu desa minimal ada 50 generator,” ungkapnya.

Baca juga : Kisah Makhluk Halus dan Usaha Warga Desa Torosiaje Menjaga Mangrove

Potensi Air

Dari baca-baca dari internet, akhirnya Marselus tergerak untuk menggagas pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemikiran tersebut lahir setelah dia sadar akan potensi air yang melimpah di sana.

Dia menyebutkan, terdapat aliran sungai besar dan kecil yang mestinya bisa dimanfaatkan sebagai energi terbarukan.

Secercah harapan tersebut hadir di antaranya dari Sungai Wae Rina, Sungai Wae Lenger, dan Sungai Wae Mese.

"Setelah lima bulan cari tahu soal PLTMH, saya menemukan teknisi Budi Yuwono. Saya kontak dia," ujarnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X