Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/12/2017, 18:05 WIB
|
EditorGloria Setyvani Putri

Lalu, makhluk ini cenderung hidup di perairan yang dalam dan hal ini diakui cukup menyulitkan peneliti. Untuk itu, penemuan Xenoturbella japonica menjadi keuntungan tersendiri bagi peneliti.

Baca Juga: Temuan Terbaru, Cacing Tanah Bisa Hidup di Tanah Mars

Untuk memastikan bahwa X. japonica adalah spesies baru dalam ilmu pengetahuan, tim menggunakan teknik yang sebelumnya tidak digunakan pada pemindaian Xenoturbella, yaitu pemindaian MicroCT.

Hasilnya, peneliti menemukan fitur baru yang belum pernah diamati sebelumnya yaitu sebuah pori depan yang terhubung ke jaringan kelenjar hewan. Peneliti masih belum mengetahui apa fungsi organ tersebut.

"Kami juga mengekstrak DNA dan mengurutkan genom mitokondria dan urutan gen histon H3 parsial. Analisis filogenetik molekuler memastikan bahwa X. japonica berbeda dari spesies Xenoturbella yang telah dijelaskan sebelumnya," kata Hideyuki Miyazwa, salah satu rekan penulis, dikutip dari Sciencealert pada hari Rabu (20/12/2017).

Setelah dikonfirmasi ada perbedaan dengan spesies sebelumnya, peneliti membagi dua subkelompok dari spesies lain Xenoturbella, subkelompok "dangkal" dan "dalam".

X. japonica ternyata juga memiliki karakteristik yang sama dengan kedua hewan di subkelompok tersebut.

X. japonica ditemukan pada kedalaman rata-rata 380-560 meter. Ini sama seperti hewan di subkelompok dangkal. Tetapi X. japonica juga memiliki sistem kelenjar ventral seperti subkelompok dalam. Panjang tubuhnya kisaran antara keduan subkelompok, meski mungkin saja spesies baru masih belum mencapai ukuran sebenarnya saat dewasa.

Baca Juga: Lawan Kuman Super, Kini Peneliti Mengandalkan Cacing

Hal ini bisa menunjukkan bahwa beberapa karakteristik mungkin bersifat turunan dan eksklusif untuk genus, dan X. japonica bisa menjadi kunci untuk menggali lebih dalam tentang sejarah genus, dan sejarah awal bilaterians.

"Spesies baru ini menjanjikan berharga untuk penelitian masa depan mengenai evolusi bilaterian dan deuterostome," kata pemimpin penulis Hiroaki Nakano. Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal BMC Evolutionary Biology.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+