Kompas.com - 15/12/2017, 17:04 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com - Kasus difteri belakangan mencuri perhatian publik. Kasus ini mencuat setelah Kementerian Kesehatan menetapkan penyakit difteri dalam ketegori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Setidaknya ada 600 laporan pasien difteri yang dirawat di 20 provinsi sepanjang Januari hingga Desember 2017. Tentu karena semakin banyaknya orang yang terinfeksi difteri, bukan tidak mungkin penyakit ini bisa makin menyebar, bahkan pada orang dewasa sekalipun.

Menyadari hal tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan rekomendasi untuk imunisasi pada orang dewasa.

Hal ini disampaikan PAPDI melalui rilis yang dikirim pada Kompas.com, Kamis (14/12/2017). Dalam pernyataannya, PAPDI tak sendiri, melainkan berkolaborasi dengan Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI) dan Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Infeksi Indonesia (PETRI).

Baca juga: Wabah Difteri di Indonesia, Antara Vaksinasi dan Antibiotik

Rilis tersebut menyebutkan bahwa ketiga organisasi kesehatan tersebut mendukung kebijakan Kementerian Kesehatan RI untuk melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) pada daerah KLB. Dengan kata lain, penanggulangan KLB ini dilakukan dengan cara imunisasi.

"Mengingatkan kembali perlunya imunisasi ulangan pada orang dewasa untuk mencegah tetanus, difteri, dan pertusis," tulis rilis tersebut.

Imunisasi yang dimaksud oleh PAPDI sendiri diberikan kepada orang dewasa yang telah mendapatkan imunisasi difteri-pertusis-tetanus (DPT) lengkap. Imunisasi ini dijadwalkan dilakukan 10 tahun sekali.

"Adapun vaksin yang dapat digunakan adalah kombinasi Tetanus-difteri-aseluler pertusis/ Tdap (Boostrix atau Andacel) atau Tetanus-difteri/ Td (Biofarma)," sambung rilis tersebut.

Baca juga: Bagaimana Cara agar Tidak Ketularan jika Orang Terdekat Kena Difteri?

PAPDI juga menyebut bahwa orang dewasa merupakan kelompok risiko tinggi difteri. Terutama pada orang yang kontak langsung dengan anak terinfeksi difteri, seperti petugas rumah sakit dan medis, guru, serta anggota keluarga dari anak yang terinfeksi difteri.

Kelompok tersebut dianjurkan untuk menjalani imunisasi Tdap atau Td. Sedangkan pada ibu hamil, imunisasi Tdap sebaiknya dilakukan pada usia kehamilan trimester 2 dan 3.

"Pemerintah telah melaksanakan imunisasi tanggap KLB (ORI) untuk anak usia 1-19 tahun secara cuma-cuma. Namun, untuk ulangan imunisasi Tdap atau Td pada orang dewasa dilakukan dengan biaya mandiri," katanya.

Tak hanya imbauan untuk melakukan imunisasi kembali, PAPDI juga mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat. Menurut mereka, gaya hidup sehat dan imunisasi merupakan salah satu upaya terbaik untuk mencegah penularan penyakit tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.