DBD Dapat Ditekan Lewat Perilaku Seks Nyamuk, Kok Bisa? - Kompas.com

DBD Dapat Ditekan Lewat Perilaku Seks Nyamuk, Kok Bisa?

Kompas.com - 13/12/2017, 20:30 WIB
Ilustrasi nyamukTacioPhilip Ilustrasi nyamuk

KOMPAS.com — Mempelajari perilaku nyamuk diharapkan mampu mencegah penyebaran penyakit DBD. Perilaku seks nyamuk salah satunya. 

Baru-baru ini, tim periset dari laboratorium Leslie B Vosshall, Profesor Robin Chemers Neustein dari Rockefeller yang dipimpin oleh Laura Duvall, menemukan bahwa nyamuk Aedes aegypti menggunakan nutrisi atau protein dari darah manusia untuk membuahi 500-an telur saat melakukan perkawinan.

Para peneliti kemudian mencoba untuk memahami perilaku seksual nyamuk tersebut dan dalam jurnal Current Biology. Mereka mengklaim telah menemukan strategi baru untuk menjaga hama DBD dan mencegah penyebaran penyakit.

Saat melakukan penelitiannya, Duvall mengaku ingin mempelajari lebih banyak tentang biologi di balik perilaku seks nyamuk betina. Khususnya, dia penasaran dengan peran yang dimainkan oleh protein kecil yang disebut HP-I.

Baca juga: Efek Vaksin DBD Bisa Berbahaya, Ini Penjelasan WHO dan IDAI 

Penelitian sebelumnya menunjukkan, HP-I diproduksi oleh pejantan nyamuk Aedes aegypti dan ditransfer saat nyamuk melakukan hubungan seks. Ketahanannya di dalam nyamuk betina hanya sampai 2 jam.

Temuan itu dikonfirmasi oleh Duvall dan timnya. Untuk membuktikan hal tersebut, para peneliti memasangkan nyamuk jantan dan betina, termasuk nyamuk mutan yang dimodifikasi secara genetis agar sama sekali tidak menghasilkan HP-I dan nyamuk normal.

Setelah nyamuk mendapatkan pasangan dalam berbagai kombinasi, tim mencari perubahan perilaku pencarian betina. Tidak peduli dengan nyamuk mana yang kawin, betina tampak tetap berambisi untuk mencari orang untuk digigit.

Akan tetapi, ketertarikan mereka terhadap nyamuk jantan berubah.

Baca juga : Kisruh Vaksin DBD Dengvaxia, BPOM Beri Penjelasan 

Sudah lama diketahui nyamuk Aedes aegypti hanya kawin satu kali, atau disebut monandri, tapi alasan di balik itu masih menjadi tanda tanya.

Melihat protein HP-I yang pindah ke betina bersama dengan air mani nyamuk jantan, Duvall dan timnya penasaran apa mungkin protein itu juga memiliki peran untuk mematikan dorongan seks betina.

Untuk menguji hipotesis tersebut, tim sekali lagi mengekspos betina ke pejantan yang memproduksi HP-I dan pejantan yang tidak memproduksi HP-I.

Namun, kali ini periset menambahkan subyek ketiga, yaitu nyamuk jantan yang memproduksi HP-I, tetapi dimodifikasi secara genetik agar keturunan mereka bisa terlihat memancarkan warna biru bila dilihat menggunakan mikroskop neon.

Baca juga: Kesadaran Masyarakat pada Bahaya DBD Masih Rendah

Hal ini bertujuan untuk mengamati kapan betina kawin dengan satu pasangan dan kapan mereka kawin dengan nyamuk lainnya.

"Saat Anda melihat campuran nyamuk neon dan tidak neon, Anda tahu betina menerima sperma lebih dari satu pejantan," kata Duvall dikutip dari Science Daily, Selasa (12/12/2017).

Hasilnya cukup pasti: betina yang mendapat dosis HP-I saat berhubungan seks akan tetap loyal pada pasangannya hingga kurun waktu 24 jam. Perilaku ini sangat berbeda dengan betina yang tidak mendapat protein HP-I.

Melihat hal ini, para peneliti mendapatkan ide untuk menekan penyebaran penyakit DBD yang dibawa nyamuk Aedes aegypti.

Duvall menemukan HP-I dapat mengaktifkan reseptor di Aedes aegypti betina yang membuat nyamuk betina merasa sudah melakukan perkawinan dan tidak melakukannya lagi. Dengan begitu, jumlah nyamuk pembawa penyakit ini dapat ditekan.


EditorMichael Hangga Wismabrata
Komentar
Close Ads X