Kompas.com - 07/11/2017, 19:45 WIB
Lava pijar meluncur dari kawah Gunung Api Karangetang saat erupsi. Kompas.com/Ronny Adolof BuolLava pijar meluncur dari kawah Gunung Api Karangetang saat erupsi.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Singer beserta rekannya mempelajari isotop argon yang terkandung dalam Bishop Tuff, batuan besar di kaldera Long Valley yang dipercaya merupakan jejak letusan ratusan ribu tahun lalu itu.

Menggunakan spektrometer massa presisi tinggi, peneliti menganalisis isotop argon dalam kurun waktu 16.000 tahun. Dari situ, dengan perhitungan tertentu, peneliti menemukan bahwa pada masa sebelum erupsi, magma dalam peristiwa letusan yang menghasilkan kaldera Long Valley dingin.

"Saking dinginnya hingga berada dalam kondisi padat," kata Andersen.

Saat mendapat suntikan panas, magma baru akan mencair dan keluar lewat erupsi.

Penemuan ini memang belum bisa menghasilkan teknik untuk memprediksi kapan gunung berapi meletus.

"Tapi ini menunjukkan fakta bahwa kita tidak mengerti apa yang terjadi dalam sistem gunung berapi dalam 10 sampai 1.000 tahun sebelum letusan besar," tutupnya.

Baca Juga: Terungkap, Mesir Kuno Runtuh karena Ulah Politisi dan Gunung Apinya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.