Apa yang Terjadi bila Gunung Tambora Meletus di Masa Depan?

Kompas.com - 05/11/2017, 18:08 WIB
Kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/3/2015). Gunung Tambora meletus dahsyat pada 10 April 1815 menyisakan kaldera seluas 7 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOKaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/3/2015). Gunung Tambora meletus dahsyat pada 10 April 1815 menyisakan kaldera seluas 7 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com — Meski kita semua tidak berharap kejadian ini akan terulang di masa depan, peneliti punya prediksi mengenai dampak yang akan terjadi jika Gunung Tambora meletus.

Sejarah mencatat kalau erupsi Tambora pada tahun 1815 menjadi salah satu letusan gunung berapi terdahsyat. Dampaknya hingga belahan bumi lain dan memicu "tahun tanpa musim panas" pada tahun 1816.

Kejadian ini memicu gagal panen dan penyakit yang meluas, membuat lebih dari 100.000 kematian di seluruh dunia.

Nah, jika letusan terjadi pada tahun 2085, National Center for Atmospheric Research (NCAR) memprediksi dampaknya akan lebih dahsyat dari sebelumnya.

Baca juga : Letusan Gunung Agung Bisa Menghasilkan Tanah Tersubur di Dunia

Suhu akan turun drastis, siklus air terganggu, serta mengurangi jumlah curah hujan yang turun secara global.

Alasan perbedaan efek yang terjadi pada tahun 1815 dan 2085 terkait dengan lautan yang diperkirakan akan menjadi lebih bertingkat karena planet ini menghangat, dan oleh karena itu kurang mampu mengatasi dampak iklim yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi.

"Kami menemukan bahwa lautan mempunyai peran penting dalam mengatasi, dan memperpanjang pendinginan permukaan yang disebabkan oleh letusan 1815," kata John Fasullo, peneliti NCAR seperti dikutip dari Phys, Selasa (31/10/2017).

Saat meletus, Gunung Tambora memuntahkan sejumlah besar sulfur dioksida ke atmosfer yang kemudian berubah menjadi partikel sulfat yang disebut aerosol.

Baca juga : Letusan Sileri Pernah Jadi Sumber Tragedi, Renggut 117 Nyawa pada 1944

Saat aerosol mulai menghalangi sebagian panas matahari, terjadi proses pendinginan. Di saat yang sama, lautan berfungsi sebagai penyeimbang penting untuk mengurai efek letusan.

Seiring permukaan lautan mendingin, air yang lebih dingin turun dan bercampur dengan air yang lebih hangat dan melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X