Vaksin Covid-19, Kenapa Bikinnya Perlu 18 Bulan?

Kompas.com - 20/02/2020, 07:05 WIB
Ilustrasi vaksin shutterstockIlustrasi vaksin

Oleh Rob Grenfell dan Trevor Drew


ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu mengatakan vaksin untuk melawan virus penyebab penyakit COVID-19 kira-kira akan tersedia untuk masyarakat dalam 18 bulan ke depan.

Mari kita telusuri mengapa waktu yang cukup lama diperlukan meski telah melibatkan usaha dari berbagai negara.

Cina membagikan urutan RNA lengkap dari coronavirus baru itu secara publik dalam paruh pertama Januari kemarin. Virus yang mulanya ditemukan di Wuhan Cina ini sekarang dikenal sebagai SARS-CoV-2 dan COVID-19 merujuk pada penyakit yang disebabkan.

Ini menjadi permulaan dalam mengembangkan vaksin di seluruh dunia, termasuk usaha yang dilakukan di Universitas Queensland dan lembaga-lembaga di Amerika Serikat dan Eropa.

Pada akhir Januari, sebuah langkah penting dilakukan oleh Doherty Institute di Melbourne. Mereka sukses menumbuhkan virus ini di luar Cina untuk pertama kalinya dan membuat para peneliti di negara-negara lain memiliki akses ke sampel virus ini.

Dengan menggunakan sampel ini, para peneliti di fasilitas dengan tingkat pengendalian tinggi milik CSIRO (Laboratorium Kesehatan Hewan Australia) di Geelong dapat memulai untuk memahami karakteristik virus ini dan menjadikan hal ini langkah penting dalam upaya global untuk mengembangkan sebuah vaksin.

Secara historis, vaksin membutuhkan 2 hingga 5 tahun untuk dikembangkan. Namun dengan upaya global bersama dan pembelajaran dari upaya pengembangan vaksin virus corona pada masa lalu, para peneliti berpotensi dapat mengembangkan vaksin ini dalam waktu yang lebih singkat.

Ini alasan mengapa kita perlu bekerja bersama

Tidak ada satu pun institusi yang memiliki kapasitas atau fasilitas untuk mengembangkan vaksin secara mandiri. Belum lagi ada banyak tahapan dalam proses pengembangan vaksin yang sering kali tidak diketahui oleh banyak orang.

Pertama, kita harus memahami karakteristik dan perilaku virus ketika berada dalam inang, dalam kasus ini manusia. Untuk melakukannya, pertama-pertama kita perlu mengembangkan sebuah model hewan.

Kemudian, kita harus menunjukkan bahwa vaksin potensial aman dan dapat memacu bagian yang tepat dari sistem imun tubuh kita tanpa menyebabkan kerusakan. Lalu kita baru dapat memulai pengujian hewan pra-klinis dari vaksin potensial dengan menggunakan model hewan.

Vaksin yang berhasil lulus pengujian pra-klinis kemudian dapat digunakan oleh institusi lain yang memiliki kapasitas untuk menjalankan pengujian pada manusia.

Di mana hal ini akan dilakukan dan oleh siapa, belum diputuskan. Secara umum, sangat ideal untuk menguji vaksin tersebut pada kondisi wabah seperti sekarang ini.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X