Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang gemar melihat bintang dan menekuri Bumi.

Kontaminasi Caesium-137 di Serpong, Sebuah Catatan

Kompas.com - 18/02/2020, 18:04 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Radiasi sinar gamma–nya dapat membunuh sel–sel kanker sepanjang diarahkan pada target yang tepat dan dengan dosis yang tepat pula. Maka, Caesium–137 banyak digunakan pada fasilitas–fasilitas radioterapi di seluruh dunia, meski belakangan perannya mulai digantikan oleh Kobal–60 atas pertimbangan stabilitas kimiawi.

Industri yang memproduksi pelat atau lembaran dengan ketebalan tertentu nan presisi, memanfaatkan sensor yang mengeksploitasi pancaran sinar gamma Caesium–137 sebagai pengukur ketebalan.

Demikian halnya industri yang berbasis aliran bubuk atau fluida, memanfaatkan sensor dengan Caesium–137 guna mengukur volume dan debit bubuk/fluida yang melewati pipa. Industri minyak dan gas juga memanfaatkannya sebagai gamma ray logging dalam pengeboran.

Berdasarkan rasio Caesium–134 terhadap Caesium–137 dan tingkat aktivitas radiasi yang dipancarkan suatu serpih Caesium–137 dengan mempertimbangkan waktu paruhnya, sesungguhnya dari mana asal sumber kontaminasi Caesium–137 dapat dilacak.

Apakah substansi yang diproduksi dari teras reaktor nulir atau bukan. Demikian pula, apakah merupakan substansi segar (baru keluar dari pusat produksinya) atau bekas–pakai (di industri/fasilitas kesehatan/lembaga pendidikan) dapat dilacak.

Keamanan Caesium–137

Kita berhutang budi pada material–material radioaktif pemancar sinar gamma seperti Caesium–137 untuk setiap helai kertas tipis yang kita gunakan, untuk setiap pelat baja/lembaran logam lainnya dan sak semen yang membangun rumah kita, serta untuk setiap tetes bahan bakar minyak yang menggerakkan kendaraan–kendaraan kita.

Tapi hutang budi ini juga mendatangkan pertanyaan, seberapa aman Caesium–137?

Layaknya setiap benda di dunia kita, Caesium–137 juga ibarat pedang bermata dua. Ia memiliki banyak manfaat pada salah satu sisi dan sebaliknya juga dapat mendatangkan marabahaya di sisi lain.

Bahaya Caesium–137 datang dari sifat dasarnya sebagai material radioaktif khususnya sebagai sumber sinar gamma, sinar berenergi tertinggi dalam spektrum elektromagnetik dan mampu menyebabkan ionisasi pada medium yang dilaluinya.

Namun seperti halnya semua substansi di Bumi kita, terdapat batasan yang membedakan kapan Caesium–137 mulai berbahaya bagi tubuh manusia dan kapan masih aman. Batasan itu berupa dosis radiasi, khususnya berupa dosis ekivalen.

Dosis ekivalen adalah turunan dari dosis serap radiasi (jumlah energi radiasi pengion yang diserap materi per unit massa) yang memperhitungkan efektivitas biologisnya terhadap tubuh manusia dan merepresentasikan probabilitas munculnya kerusakan genetik dan kanker yang dipicu radiasi.

International Commission on Radiological Protection (ICRP) telah menetapkan dosis ekivalen akumulatif maksimum yang boleh diterima tubuh manusia dari sumber buatan (bukan sumber radiasi latarbelakang).

Untuk tubuh pekerja nuklir dewasa, dosis akumulatif dalam setahun adalah 50 miliSievert atau setara 25 mikroSievert per jam. Sedangkan bagi keseluruhan tubuh bayi hingga remaja berusia maksimum 18 tahun yang hidup di sekitar fasilitas nuklir, batasannya dalam setahun adalah 5 miliSievert atau setara 2,5 mikroSievert perjam.

Untuk masyarakat umum, batas rata–ratanya dalam setahun adalah 1 miliSievert, atau setara 0,5 mikroSievert perjam.

Pembedaan antara pekerja nuklir atau penduduk yang tinggal di sekitar fasilitas nuklir dengan masyarakat umum terletak pada lebih mudahnya pekerja nuklir atau yang tinggal di sekitar fasilitas nuklir mendapatkan akses pengukuran dosis ekivalen yang diterimanya.

Dengan angka–angka batas tersebut, bukan berarti bahwa orang dewasa yang menerima paparan radiasi melebihi 25 mikroSievert perjam (untuk pekerja nuklir) atau 0,5 mikroSievert perjam (untuk masyarakat umum) akan langsung sakit.

Probabilitas terjadinya kanker yang dipicu radiasi bersifat linier, meningkat seiring peningkatan nilai dosis ekivalen. Secara umum baru pada dosis 1.000 miliSievert atau lebih saja peluang munculnya kanker mulai terbentuk.

Sedangkan untuk menyebabkan kematian, dibutuhkan dosis radiasi yang lebih besar lagi. Penelitian regulator nuklir Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan hanya pada dosis akumulatif minimal 4.000 hingga 5.000 miliSievert saja kematian akan terjadi pada 50 % populasi dalam 30 hari setelah menerima radiasi akut (paparan radiasi dalam tempo singkat).

Saat ditemukan, kontaminasi awal Caesium–137 di Tangerang Selatan memiliki dosis 149 mikroSievert perjam. Sehingga mengacu pada masyarakat umum, dosis yang diterima dari kontaminasi tersebut mencapai hampir 300 kali lipat di atas ambang batas. Dibandingkan dengan paparan latarbelakang, dosis kontaminasi itu juga masih 100 kali lipat lebih tinggi.

Meskipun jika kita mau jujur membandingkan, dosis radiasi kontaminasi awal Caesium–137 di Tangerang Selatan itu baru setara konsumsi rokok sebanyak 3 pak perhari oleh seorang perokok berat.

Ya, setiap batang rokok mengandung partikel radioaktif Polonium–210 dan Timbal–210. Mengonsumsi rokok membuat kita secara sukarela memasukkan partikel radioaktif ke dalam paru–paru dan saluran pernafasan dengan dosis radiasi yang bisa diperbandingkan terhadap kasus kontaminasi Caesium–137 di Tangerang Selatan.

Jika dinyatakan dalam skala INES (International Nuclear Event Scale) yang diperkenalkan IAEA (International Atomic Energy Agency) sebagai patokan dalam klasifikasi insiden dan kecelakaan nuklir, kontaminasi Caesium–137 di Tangerang Selatan tercakup ke dalam skala 1 INES. Sehingga masih digolongkan ke dalam Anomali Nuklir, belum mencapai taraf Insiden Nuklir apalagi Kecelakaan Nuklir.

Sebab, dosis radiasinya masih di bawah batas 50 miliSievert perjam dan tak ada masyarakat yang terpapar langsung atau menerima radiasi dengan dosis maksimal 10 miliSievert.

Skala INES terdiri atas delapan tingkatan, dengan tingkat terendah bernilai 0 (nol) yang dikategorikan sebagai Deviasi Nuklir sementara tingkat tertinggi bernilai 7 yang dikategorikan Kecelakaan Nuklir Besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.