Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang gemar melihat bintang dan menekuri Bumi.

Kontaminasi Caesium-137 di Serpong, Sebuah Catatan

Kompas.com - 18/02/2020, 18:04 WIB
Tim satuan Teknisi Kimia, Biologi, Radioaktif (KBR) pasukan Gegana Brimob Polri melakukan pengecekan lokasi yang terkontaminasi paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (15/1/2020). Badan Pengawas Tenaga Nuklir meminta warga menjauhi area tanah kosong di Perumahan Batan Indah, samping lapangan voli blok J, seusai menemukan kenaikan nilai paparan radiasi nuklir di area tersebut. KOMPAS.com/M ZAENUDDINTim satuan Teknisi Kimia, Biologi, Radioaktif (KBR) pasukan Gegana Brimob Polri melakukan pengecekan lokasi yang terkontaminasi paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (15/1/2020). Badan Pengawas Tenaga Nuklir meminta warga menjauhi area tanah kosong di Perumahan Batan Indah, samping lapangan voli blok J, seusai menemukan kenaikan nilai paparan radiasi nuklir di area tersebut.

SEPETAK tanah kosong berumput di sebuah kompleks perumahan di Kota Tangerang Selatan (propinsi Banten) menyedot perhatian besar hingga skala nasional dalam seminggu terakhir. Di tanah inilah terjadi kontaminasi material radioaktif sehingga tingkat radiasinya sempat jauh di atas ambang batas meski cukup guna menimbulkan gangguan kesehatan apalagi kematian.

Sepetak tanah tersebut berada tepat di samping gerbang masuk utama perumahan dan hanya dipisahkan bentangan jalan raya Serpong dengan sebagian kompleks pemerintahan Kota Tangerang Selatan. Gedung DPRD Kota Tangerang Selatan, tepat berhadapan dengan petak tanah yang terkontaminasi tersebut.

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) menemukan petak tanah terkontaminasi tersebut saat melaksanakan uji fungsi unit pemantau radioaktivitas lingkungan (MONA) pada 30–31 Januari 2020. Uji fungsi dilaksanakan secara rutin guna menjamin kehandalan unit MONA.

Area yang ditelusuri seluruhnya di Kota Tangerang Selatan, meliputi Kecamatan Pamulang, Serpong dan Setu. Fasilitas yang diukur aktivitas lingkungannya meliputi Perumahan Puspiptek, Kampus ITI (Institut Teknologi Indonesia), Perumahan Batan Indah dan Stasiun KA Serpong.

Pada semua tempat itu radioaktivitas lingkungan bersifat normal, artinya berada di bawah ambang batas yang diperkenankan.

Secara alamiah, memang ada paparan radiasi dari isotop–isotop radioaktif natural baik di paras Bumi maupun atmosfer yang menghasilkan dosis radiasi serapan hingga batas tertentu. Fenomena tersebut dinamakan paparan latar (background radiation) dan umum dijumpai dimanapun.

Kecuali di salah satu sudut Perumahan Batan Indah yang secara administratif menjadi bagian Kelurahan Kademangan di Kecamatan Setu. Di sini, terdeteksi paparan radiasi dengan tingkat cukup signifikan.

Pengecekan ulang memastikan paparan radiasi di situ memang tinggi dan di atas normal. Pengukuran Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menunjukkan dosis radiasinya 149 mikroSievert perjam.

Dekontaminasi dilakukan mulai 12 Februari 2020 dengan mengelupas topsoil dan vegetasi di area seluas 10 x 10 meter persegi, didahului pemetaan dan pelacakan sumber kontaminasi. Beberapa serpih Caesium–137 ditemukan tim gabungan BAPETEN & BATAN pada 7–8 Februari 2020.

Dekontaminasi menghasilkan 5,2 meter kubik material padat yang diperlakukan sebagai limbah radioaktif padat yang selanjutnya diproses di fasilitas Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN.

Pasca pengelupasan pertama, dosis radiasinya menurun 30 % menjadi 99 mikroSievert perjam.

Banyak pertanyaan terkait kejadian ini. Misalnya, dari mana Caesium–137 yang mengontaminasi?

Produk Reaksi Fisi Nuklir

Caesium–137 adalah salah satu isotop yang bersifat radioaktif dari Caesium, suatu unsur golongan logam alkali. Ia segolongan dengan Natrium dan Kalium, sehingga memiliki sifat kimia serupa.

Sebagai Caesium–137 murni, logam ini berbentuk cair dalam suhu kamar dan bereaksi eksplosif saat bersentuhan dengan air maupun udara bebas. Sebaliknya kala berikatan dengan Khlor sebagai senyawa Caesium Khlorida, ia berbentuk padatan serbuk putih stabil yang mudah larut dalam air maupun etanol.

Sebagai isotop radioaktif, peluruhan Caesium–137 melepaskan partikel beta (elektron energetik) berenergi 512 keV (kilo elektronVolt) dan membentuk isotop Barium–137 metastabil.

Isotop Barium–137 metastabil juga segera meluruh dalam orde mikrodetik menjadi Barium–137 yang stabil (ground state) dengan melepaskan sinar gamma berenergi 662 keV. Mekanisme peluruhan ini yang menjadikan Caesium–137 sebagai pemancar sinar gamma dan beta.

Material radioaktif ini memiliki waktu paruh 30 tahun, dengan kata lain aktivitas radiasinya akan berkurang menjadi separuh dari semula dalam 30 tahun.

Caesium–137 dalam jumlah signifikan tak tersedia secara alamiah di jagat raya. Ia hanya bisa diproduksi dalam reaksi fisi nuklir (pembelahan nuklir) pada Uranium (Uranium–235, Uranium–233) dan Plutonium (Plutonium–239), baik dalam teras reaktor nuklir maupun ledakan bom nuklir.

Sebelum beroperasinya Chicago Pile Reactor–1, reaktor nuklir pertama di dunia, pada 2 Desember 1942, dunia tak pernah menyaksikan hadirnya Caesium–137 dalam jumlah signifikan selama 1,7 milyar tahun terakhir.

Lebih spesifik lagi, untuk pertama kalinya Caesium–137 tersebar ke lingkungan dalam jumlah signifikan adalah pada 16 Juli 1945 kala berlangsung ujicoba The Gadget pada medan percobaan Jornada del Muerto di padang Alomogordo, New Mexico (Amerika Serikat).

Sekitar 6 persen dari material radioaktif produk fisi yang memiliki waktu paruh medium (yakni kurang dari 100 tahun) adalah Caesium–137. Peringkat berikutnya diduduki oleh Stronsium–90, Samarium–151 dan Kripton–85.

Caesium–137 yang diproduksi pada teras reaktor nuklir memiliki ciri khas berupa keterdapatan isotop radioaktif lainnya berupa Caesium–134. Secara kimiawi, Caesium–134 tidak bisa dibedakan dengan Caesium–137 sehingga sangat sulit dipisahkan. Sebaliknya, Caesium–137 yang diproduksi dalam ledakan bom nuklir tidak mengandung Caesium–134.

Maka menentukan asal suatu kontaminasi Caesium–137 pada satu lokasi umumnya dimulai dengan melihat rasio Caesium–134 terhadap Caesium–137 pada sampel.

Caesium–137 memiliki sejumlah manfaat yang turut menopang peradaban manusia modern.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Delapan Tahun Terakhir Jadi Tahun Terpanas di Bumi

Delapan Tahun Terakhir Jadi Tahun Terpanas di Bumi

Fenomena
Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Fenomena
Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Permukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Permukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.