Kompas.com - 17/02/2020, 11:56 WIB
Ilustrasi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona

KOMPAS.com - Jumlah terinfeksi virus corona Wuhan atau Covid-19 hingga Senin pagi (17/2/2020) mencapai angka lebih dari 71.000 kasus.

Pada Minggu (16/2/2020), jumlah kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 69.268 dengan jumlah kematian 1.669.

Hari ini, Senin (17/2/2020) jumlah tersebut bertambah menjadi 71.334 dan menewaskan 1.775 orang.

Otoritas kesehatan China Provinsi Hubei mengonfirmasi jumlah kematian terbaru adalah 105 orang dengan penambahan pasien 2.050 orang dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Evakuasi Lanjutan Covid-19, Pemerintah Tunggu WHO Lepas PHEIC

Hingga Sabtu (15/2/2020), Perancis adalah kawasan keempat di luar China yang mengonfirmasi satu kematian akibat Covid-19 di negaranya. Hal ini menyusul Finlandia, Hong Kong, dan Jepang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemarin malam, Minggu (16/2/2020), pemerintah Taiwan mengumumkan pasien yang dirawat karena terinfeksi virus corona Wuhan meninggal dunia. Ini menjadikannya sebagai kasus kematian pertama di negara tersebut.

Dalam konferensi pers, Menteri Kesehatan Chen Shih-chung menyatakan bahwa pasien yang meninggal adalah seorang pria berusia sekitar 60 tahun.

Dilansir Focus Taiwan dan Channel News Asia Minggu (16/2/2020), korban disebut tidak punya riwayat bepergian ke luar negeri baru-baru ini.

Selain itu, pasien yang tidak disebutkan identitasnya itu mengidap diabetes, Hepatitis B, dan tidak diketahui bagaimana dia tertular virus corona.

Hingga saat ini, ada 28 kawasan di luar Hubei, China yang telah mengonfirmasi kasus Covid-19.

Beberapa negara telah mengevakuasi warganya dari Hubei, termasuk Indonesia.

Maskapai besar telah menangguhkan penerbangan ke dan dari China sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran wabah.

Berikut ini adalah update virus corona Wuhan terbaru, Jumat (14/2/2020), berdasarkan data yang dipublikasikan https://www.https://www.worldometers.info/coronavirus info/coronavirus Death Toll and Trends:

  1. China: 70.550 terinfeksi (2.050 kasus baru) dan 1.770 meninggal (105 kematian baru)
  2. Jepang: 416 terinfeksi (2 kasus baru) dan 1 meninggal
  3. Singapura: 75 terinfeksi (3 kasus baru)
  4. Thailand: 34 terinfeksi
  5. Hong Kong: 57 terinfeksi (1 kasus baru) dan 1 meninggal
  6. Korea Selatan: 30 terinfeksi (1 kasus baru)
  7. Malaysia: 22 terinfeksi
  8. Taiwan: 20 terinfeksi (2 kasus baru) dan 1 kematian baru
  9. Jerman: 16 terinfeksi
  10. Vietnam: 16 terinfeksi
  11. Australia: 15 terinfeksi
  12. Amerika Serikat: 15 terinfeksi
  13. Perancis: 12 terinfeksi dan 1 meninggal
  14. Makau: 10 terinfeksi
  15. Inggris: 9 terinfeksi
  16. Uni Emirat Arab: 9 terinfeksi (1 kasus baru)
  17. Kanada: 8 terinfeksi
  18. India: 3 terinfeksi
  19. Filipina : 3 terinfeksi dan 1 meninggal
  20. Italia: 3 terinfeksi
  21. Rusia: 2 terinfeksi
  22. Spanyol: 2 terinfeksi
  23. Mesir: 1 terinfeksi
  24. Nepal: 1 terinfeksi
  25. Sri Lanka: 1 terinfeksi
  26. Finlandia: 1 terinfeksi
  27. Kamboja: 1 terinfeksi
  28. Belgia: 1 terinfeksi
  29. Swedia: 1 terinfeksi

Kabar baiknya, orang yang dinyatakan sembuh dari virus corona Wuhan pun terus bertambah.

Bila Minggu (16/2/2020) pagi, tercatat sedikitnya 9.539 orang dinyatakan sembuh dan sehat.

Hari ini (17/2/2020), jumlah pasien yang sembuh melonjak menjadi 11.029 di seluruh dunia.

Baca juga: Ahli: Lawan Covid-19 dengan Plasma Darah Milik Pasien yang Sembuh

Temuan baru, plasma darah pasien yang sembuh diduga bisa obati Covid-19

Pejabat kesehatan senior China menyebut jika ada opsi pengobatan bagi pasien COVID-19.
Pejabat tersebut meminta orang yang telah pulih dari COVID-19 untuk menyumbangkan plasma darah mereka.

Alasannya, plasma dari penyintas itu mungkin mengandung protein berharga yang dapat digunakan untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus corona.

Permintaan untuk menyumbangkan plasma darah itu diumumkan setelah perusahaan milik negara, China National Biotec Group menyebut antibodi tersebut membantu merawat 10 pasien yang kritis serta mengurangi peradangan mereka dalam 12 hingga 24 jam.

Pendekatan ini menurut ahli cukup logis dan menjanjikan untuk merawat pasien COVID-19 yang parah.

Orang yang baru saja pulih dari COVID-19 masih memiliki antibodi terhadap virus corona yang beredar dalam darah mereka.

Menyuntikkan antibodi ke pasien yang sakit secara teoritis dapat membantu pasien melawan infeksi dengan lebih baik.

Dengan kata lain, perawatan ini akan mentransfer kekebalan pasien yang pulih ke pasien yang sakit.

Pendekatan ini menurut Benjamin Cowling, profesor epidemiologi di University of Hong Kong sebelumnya telah digunakan pada pandemi flu.

Namun perlu penelitian lebih, salah satunya untuk mengetahui apakah ada efek samping.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.