Ilmuwan Pernah Teliti Virus Kelelawar di Sulawesi, Ini Temuannya

Kompas.com - 14/02/2020, 12:03 WIB
Ilustrasi kelelawar ShutterstockIlustrasi kelelawar

"Inang fatal inilah yang pada hewan atau manusia yang terinfeksi mikroorganisme justru mengalami sakit," jelas dia.

Hal ini sama halnya dengan kejadian wabah MERS, SARS dan Covid-19 ini yang berasal dari virus corona pada kelelawar. Kemudian, virus itu menginfeksi inang fatal yaitu manusia dan hewan lainnya.

Penelitian kelelawar di Sulawesi

Joko bersama tim peneliti lainnya telah melakukan penelitian terkait virus yang mungkin berpotensi menginfeksi manusia dari kelelawar.

Penelitian tersebut dilakukan dengan pengambilan beberapa sampel kelelawar dan rodensia di Pulau Sulawesi, yaitu Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Gorontalo.

Di bawah proyek PREDICT dan USAID dari tahun 2014-2019, pengambilan sampel lapangan dilakukan dalam periode dua minggu selama musim hujan dan musim kemarau setiap tahunnya.

Baca juga: Virus Corona sampai Ebola, Kenapa Virus dari Kelelawar Sangat Mematikan?

Pengambilan sampel tersebut juga termasuk hewan yang dijual di pasar besar daerah setempat, dengan lebih dari 20 pedagang.

Sampel hewan kelelawar yang diambil adalah hewan di dalam atau di dekat tempat tinggal manusia, di tempat penampungan sementara, hewan yang di jual di pasar besar daerah setempat dengan lebih dari 20 pedagang, serta hewan di beberapa lokasi di dekat habitat alami.

Spesimen yang dikumpulkan oleh para peneliti berupa darah, feses atau usap dubur, urine atau usap geno-genital, dan usap tenggorokan.

Protokol laboratorium Predict diterapkan untuk mendeteksi keluarga atau genus virus dengan consensus PCR terhadap spesimen yang ada tersebut.

Baca juga: Tahun Lalu, Ahli China Peringatkan Potensi Virus Corona Baru dari Kelelawar

Sampel diuji terhadap empat keluarga virus dan satu genus, yaitu Paramyxoviridae, Coronaviridae, Filoviridae, Flaviviridae, dan virus Influenza A.

Hasil pemeriksaan masih dalam proses memperoleh persetujuan dari otoritas kesehatan hewan untuk bisa dipublikasikan dalam berbagai bentuk.

Setelah memperoleh persetujuan tersebut, temuan akan didistribusikan kepada pemerintah di seluruh sektor yang meliputi satwa liar, pertanian, dan sektor kesehatan menggunakan pendekatan One Health sebagai pemetaan keberadaan virus di satwa liar.

"Jadi (penelitian surveilans) ini bentuk upaya pencegahan yang bisa kita lakukan agar wabah virus baru dari hewan liar tidak menginfeksi manusia," tuturnya.

Kendati demikian, Joko juga menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut dan lebih merata di daerah lainnya juga harus dilakukan untuk melihat indikasi dan kemungkinan lainnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X