Ilmuwan Temukan Populasi "Hantu" Manusia Purba Misterius di Afrika

Kompas.com - 13/02/2020, 19:03 WIB
Ilustrasi ini dibuat tahun 1870, menggambarkan manusia purba menggunakan tongkat kayu dan kapak batu untuk menangkis serangan seekor beruang gua besar. Beruang gua (Ursus spelaeus) adalah spesies beruang yang hidup di Eropa selama Pleistocene dan punah di awal Maksimum Glasial Terakhir, sekitar 27.500 tahun lalu. Di belakangnya ada Mammoth. Ilustrasi ini dibuat tahun 1870, menggambarkan manusia purba menggunakan tongkat kayu dan kapak batu untuk menangkis serangan seekor beruang gua besar. Beruang gua (Ursus spelaeus) adalah spesies beruang yang hidup di Eropa selama Pleistocene dan punah di awal Maksimum Glasial Terakhir, sekitar 27.500 tahun lalu. Di belakangnya ada Mammoth.

"Mereka tampaknya telah membuat dampak yang cukup besar pada genom individu yang saat ini kita pelajari. Mereka menyumbang 2 persen hingga 19 persen dari keturunan genetik mereka," kata Sankararaman.

Keempat populasi yang diteliti berasal dari tiga negara, dua dari Nigeria, dan masing-masing satu dari Sierra Leone dan Gambia.

Temuan ini jauh dari definitif, tetapi menurut perkiraan terbaik para ilmuwan, populasi hantu terpisah dari nenek moyang Neanderthal dan manusia modern antara 360.000 dan 1 juta tahun yang lalu.

Kelompok yang mungkin terdiri dari 20.000 individu ini kemudian dikawinkan dengan nenek moyang orang Afrika Barat modern di beberapa titik dalam 124.000 tahun terakhir.

Baca juga: Manusia Purba Filipina Masih Kerabat Hobbit Flores, Ini Ciri Keduanya

Namun, Sankararaman memprediksikan kemungkinan lain adanya beberapa gelombang perkawinan selama ribuan tahun. Atau sejumlah populasi berbeda dari kerabat manusia purba yang sejauh ini tidak diketahui.

"Sangat mungkin bahwa gambar yang sebenarnya jauh lebih rumit” sambungnya seperti dilansir The Guardian, Rabu (12/2/2020).

Para peneliti sekarang tertarik untuk menyelidiki gen purba. Suatu kemungkinan jika orang Afrika barat mempertahankan DNA karena membantu mereka untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

"Itu selalu menarik dan bermanfaat untuk melihat para peneliti menerapkan metode baru untuk mencoba mendapatkan ide yang lebih baik tentang seperti apa populasi purba," kata John Hawks, seorang antropolog di University of Wisconsin-Madison, yang tidak terlibat dalam studi ini.

Baca juga: Manusia Purba di Indonesia: Jenis dan Ciri-cirinya

Hawks mengatakan, ini merupakan momen yang menyenangkan karena penelitian ini membuka jendela untuk dapat lebih dalam mempelajari leluhur manusia.

Kendati demikian, perlu dilakukan penelitian di lapangan untuk menemukan fosil dan sisa-sisa arkeologis mereka.

“Kami tidak tahu seperti apa populasi ( manusia purba misterius) Afrika ini. Sangat menggoda untuk berspekulasi. Tapi saya harus mengatakan itu terlalu cepat untuk diketahui. Kami belum menemukan cukup fosil di sebagian besar Afrika untuk mengatakan kami tahu apa yang ada di sana," imbuh Hawks.

Baca juga: Tahan Cuaca Ekstrem, Manusia Purba Paling Misterius Ini Ada di Tibet

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X