Mengenal Stroke, Penyakit yang Sebabkan Istri Chrisye Meninggal

Kompas.com - 09/02/2020, 16:21 WIB
Damayanti Noor ketika berkunjung ke kantor redaksi Kompas.com, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (16/11/2017). Kedatangannya untuk mempromosikan film Chrisye yang diproduksi oleh MNC Pictures. KOMPAS.com/Tri Susanto SetiawanDamayanti Noor ketika berkunjung ke kantor redaksi Kompas.com, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (16/11/2017). Kedatangannya untuk mempromosikan film Chrisye yang diproduksi oleh MNC Pictures.

KOMPAS.com - Istri penyanyi Chrisye, Yanti Noor meninggal dunia pada Sabtu (8/2/2020) sekitar pukul 12:15 WIB di kawasan Cimacan, Jawa Barat.

Dari penuturan Stanley Tulung, selaku kerabat keluarga Chrisye, Yanti Noor menghembuskan napas terakhir saat berkumpul bersama teman-temannya.

“Iya (meninggalnya) sedang berkumpul sama teman-temannya,” ujar Stanley saat dihubungi wartawan, Sabtu (8/2/2020).

Kemudian, dikatakan Stanley bahwa Yanti Noor meninggal lantaran penyakit stroke.

Baca juga: 3 Hal untuk Cegah Stroke Akibat Kelainan Irama Jantung Aritmia

Apa itu stroke?

Dilansir SehatQ, stroke merupakan keadaan serius di mana suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan mati.

Ketika sel-sel dalam otak mati, kemampuan tubuh yang dikendalikan oleh area otak seperti memori dan kontrol otot akan hilang.

Besaran efek yang akan ditimbulkan oleh stroke bergantung pada letak stroke yang terjadi di bagian otak dan seberapa besar kerusakan yang terjadi pada otak.

Sebagai contoh, ketika seseorang hanya mengalami stroke ringan, ia mungkin hanya akan mengalami masalah kecil, seperti kelemahan kaki atau lengan sementara.

Namun ketika stroke berat terjadi, maka seseorang akan mengalami kelumpuhan permanen di satu sisi tubuh atau kehilangan kemampuan mereka untuk berbicara.

Stroke merupakan penyebab kematian utama di hampir seluruh rumah sakit di Indonesia. Sekitar 15,4 persen dan mengalami peningkatan di setiap tahunnya.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan telah terjadi peningkatan prevalensi stroke di Indonesia dari 8,3 per mil (tahun 2007) menjadi 12,1 per mil (tahun 2013).

Gejala

Gejala utama stroke dapat diingat dengan kata F.A.S.T.:

  • Face (Wajah) – Wajah jatuh di satu sisi, mulut atau mata mereka turun, atau, mungkin tidak dapat tersenyum.
  • Arms (Lengan) – Tidak dapat mengangkat dan menahan kedua lengan karena kelemahan atau mati rasa di salah satu lengan.
  • Speech (Kemampuan Berbicara) – Kemampuan berbicara kacau, cadel atau mungkin tidak dapat berbicara sama sekali.
  • Time (Waktu) – Saatnya Anda menghubungi dokter atau rumah sakit terdekat saat mengalami atau melihat tanda-tanda ini.

Penyebab

Stroke dapat disebabkan oleh arteri yang tersumbat (stroke iskemik/ penyumbatan) atau pecahnya atau kebocoran pembuluh darah (stroke perdarahan).

Adapun penyebab lainnya adalah gangguan sementara aliran darah ke otak (transient ischemic attack, atau TIA) yang tidak menyebabkan kerusakan permanen.

Stroke Iskemik

Stroke Iskemik, sekitar 80 persen stroke yang terjadi merupakan stroke iskemik.

Kondisi ini terjadi ketika arteri ke otak menyempit atau terhambat dan menyebabkan aliran darah ke otak sangat berkurang (iskemik).

Stroke Iskemik yang paling umum, di antaranya:

  • Stroke trombosis: Terjadi ketika gumpalan darah (trombosis) terbentuk di salah satu arteri yang memasok darah ke otak. Gumpalan tersebut mungkin disebabkan oleh deposit lemak yang menumpuk di arteri dan menyebabkan aliran darah ke otak berkurang. Stroke trombosis juga mungkin dapat terjadi pada kondisi arteri lainnya.
  • Stroke emboli: Terjadi ketika gumpalan darah atau puing-puing lainnya menjauh dari otak dan tersapu melalui aliran darah ke arteri otak yang lebih sempit. Jenis gumpalan darah ini disebut embolus.

Stroke perdarahan

Stroke perdarahan/ hemoragik, terjadi ketika pembuluh darah di otak bocor atau pecah dan menimbulkan perdarahan. Pendarahan otak dapat disebabkan oleh banyak kondisi, di antaranya adalah:

  • Tekanan darah tinggi atau hipertensi yang tidak terkontrol
  • Pengobatan dengan pengencer darah
  • Pelemahan dinding pembuluh darah
  • Kondisi tertentu seperti pecahnya jalinan abnormal pembuluh darah berdinding tipis (malformasi arteri vena)

Jenis stroke perdarahan meliputi:

  • Perdarahan intraserebral: keadaan dimana pembuluh darah di otak pecah dan darah masuk ke jaringan otak di sekitarnya, serta merusak sel-sel otak. Penyebabnya dapat terjadi karena tekanan darah tinggi, trauma, malformasi vaskular, penggunaan obat pengencer darah dan kondisi lainnya yang dapat menyebabkan perdarahan intraserebral.
  • Perdarahan subarakhnoid: keadaan dimana arteri yang berada di atau dekat permukaan otak menyembur dan darah masuk ke ruang antara permukaan otak dan tengkorak. Perdarahan ini sering ditandai dengan sakit kepala yang tiba-tiba dan parah.

Baca juga: Khawatir Risiko Stroke karena Terapi Stem Cell? Pakar Kenalkan SVF

Transient Ischemic Attack (TIA)

Transient Ischemic Attack (TIA), dikenal sebagai ministroke. Kondisi ini merupakan kondisi sementara yang ditandai dengan gejala yang mirip dengan gejala stroke.

Contohnya adalah penurunan sementara pasokan darah ke bagian otak yang bisa berlangsung hanya beberapa menit.

Jika seseorang pernah mengalami TIA, itu berarti kemungkinan ada arteri yang mengarah ke otak yang tersumbat atau menyempit atau gumpalan di jantung.

Diagnosis

Ketika seseorang menunjukkan gejala stroke atau TIA. Dokter akan segera mengumpulkan informasi dan membuat diagnosis melalui riwayat medis pasien, pemeriksaan fisik dan neurologis, tes laboratorium (darah) tertentu, hasil CT scan atau MRI pasien, atau tes diagnostik lain yang mungkin diperlukan.

Tes diagnostik dilakukan untuk melihat bagaimana otak bekerja dan mendapatkan suplai darah dan menguraikan area otak yang cedera.

Pengobatan

Pengobatan untuk stroke tergantung pada jenis stroke dan di bagian otak mana stroke tersebut terjadi.

Stroke biasanya diobati dengan obat-obatan. Seperti obat-obatan untuk mencegah dan melarutkan gumpalan darah, mengurangi tekanan darah dan mengurangi kadar kolesterol.

Dalam beberapa kasus stroke mungkin diperlukan prosedur untuk menghilangkan pembekuan darah.

Pembedahan juga mungkin diperlukan untuk mengobati pembengkakan otak dan mengurangi risiko pendarahan lebih lanjut dalam kasus stroke perdarahan.

Stroke yang tidak diberikan pengobatan secara cepat akan mengakibatkan kerusakan lebih luas di bagian otak.

Hal ini tentu akan berpengaruh buruk terhadap kondisi pasien. Di antaranya menyebabkan kelumpuhan atau fungsi otot tubuh, hingga kematian.

Untuk mengurangi risiko terkena stroke, dokter akan menyarankan agar Anda menerapkan gaya hidup sehat. Di antaranya dengan:

  • Makan makanan sehat dan bergizi,
  • Berolahraga secara teratur
  • Tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan
  • Tidak merokok
  • Serta mengurangi kondisi yang meningkatkan risiko stroke. Misalnya menjaga kadar kolesterol atau menurunkan tekanan darah tinggi dengan mengkonsumsi obat-obatan.

Baca juga: Tahukah Anda, Denyut Jantung Cepat Berisiko Tinggi Picu Stroke

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X