Wabah Virus Corona Wuhan, Mengapa WHO Belum Beri Status Darurat?

Kompas.com - 29/01/2020, 19:01 WIB
Ilustrasi Bendera WHO SHUTTERSTOCK.com/AKADESIGNIlustrasi Bendera WHO

Di Inggris dan beberapa negara lainnya, penumpang pesawat penerbangan yang datang langsung dari Wuhan menjalani beberapa pemeriksaan kesehatan dan diberi informasi mengenai apa yang perlu mereka lakukan jika merasa tidak sehat.

Sekarang, penerbangan lainnya telah dihentikan, namun langkah-langkah ini perlu diperluas dengan menghentikan pula penerbangan dari wilayah lain di China.

Pertanyaan yang tidak terjawab

Meski begitu, beberapa pertanyaan masih tidak terjawab, beberapa di antaranya akan menjadi kunci bagi pertimbangan lebih lanjut WHO mengenai deklarasi kondisi darurat dalam beberapa pekan ke depan.

Sudah jelas bahwa penularan coronavirus Wuhan dari manusia ke manusia dapat terjadi karena adanya infeksi yang menyebar dari pasien ke petugas kesehatan dan kontak manusia dekat lainnya.

Yang belum jelas adalah bagaimana virus ini menular. Berapa banyak penularan yang sedang terjadi dan akan ada berapa banyak pasien lagi dari kontak pasien kedua dengan ketiga, ketiga dengan keempat, dan seterusnya? Dan dapatkah seseorang menyebarkan virus ini sebelum mereka memiliki gejalanya?

Para ilmuwan menggunakan istilah Ro untuk mendeskripsikan seberapa mudah virus menyebar dan semakin tinggi penyebarannya, semakin besar pula kemungkinan penyebaran wabah lebih cepat terjadi. Tingkat keparahan penyakit juga penting.

Pada 26 Januari, 56 (2,8%) dari 2.014 kasus yang dikonfirmasi telah meninggal. Sedangkan tingkat kematian coronavirus SARS hampir 10%. Jika coronavirus baru ini menyebar secara cepat namun memiliki tingkat kasus kematian yang lebih rendah, maka tingkat kekhawatiran akan lebih sedikit.

Ilmuwan China sedang melakukan tes untuk menentukan hewan apa saja di pasar tradisional di Wuhan yang menjual hewan hidup dan mati termasuk hewan liar untuk konsumsi, yang mungkin menjadi sumber virus. Ada juga pertanyaan mengenai aturan mana yang akan dipatuhi.

Setelah wabah tahun 2003, aturan sementara diberlakukan untuk menghentikan penjualan hewan eksotis, seperti musang, yang menularkan coronavirus SARS. Kendati demikian, pasar tradisional yang biasanya ramai menjadi tempat orang-orang menjual unggas hidup dan hewan lainnya tetap populer di kalangan pembeli di Asia.

Sekitar 600 orang meninggal di Inggris tiap tahunnya karena flu saja, dan sekitar ratusan ribu kematian lainnya dari seluruh penjuru dunia.

Jadi, sementara virus yang baru akan selalu muncul dan menimbulkan bahaya, respons terkini dari pejabat kesehatan masyarakat dan ilmuwan di China dan di seluruh dunia, yang menggabungkan segala yang mereka punya untuk mempelajari virus ini sejak wabah SARS, harusnya dapat mengamankan publik untuk saat ini, terlepas apakah WHO akan mendeklarasikan kejadian ini sebagai keadaan darurat kesehatan global atau tidak.

Tom Solomon

Director of the National Institute for Health Research (NIHR) Health Protection Research Unit in Emerging and Zoonotic Infections, and Professor of Neurology, Institute of Infection and Global Health, University of Liverpool

Artikel ini tayang di Kompas.com berkat kerja sama dengan The Conversation Indonesia. Tulisan di atas diambil dari artikel asli berjudul "Wabah coronavirus dari Cina: penjelasan mengapa WHO belum beri status darurat kesehatan global". Isi di luar tanggung jawab Kompas.com.

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X