Wabah Virus Corona Wuhan, Mengapa WHO Belum Beri Status Darurat?

Kompas.com - 29/01/2020, 19:01 WIB
Ilustrasi Bendera WHO SHUTTERSTOCK.com/AKADESIGNIlustrasi Bendera WHO

Oleh Tom Solomon


KEPUTUSAN Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) untuk tidak menyatakan wabah coronavirus baru (2019-nCoV) di China sebagai keadaan darurat kesehatan global tentu mengejutkan banyak orang.

Jumlah kasus dan kematian yang telah dilaporkan meningkat dua kali lipat setiap beberapa hari dengan pasiennya berdatangan dari negara-negara Asia, serta Timur Tengah, Eropa, Australia, hingga Amerika Serikat.

Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana hal-hal buruk harus terjadi sebelum hal itu dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan publik secara global. Namun, menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, pernyataan seperti itu bukanlah perkara mudah.

Konsep WHO yang menyatakan keadaan darurat kesehatan publik global pertama kali muncul setelah wabah coronavirus SARS tahun 2003. Seperti halnya wabah saat ini, penyakit SARS bermula dari pasar hewan hidup yang memungkinkan terjadinya penyebaran virus antarspesies dari kotoran hewan yang terinfeksi ke manusia.

Tapi tidak seperti situasi saat ini, dulu wabah SARS tumbuh selama berbulan-bulan hingga akhirnya pihak berwenang China baru mengakui bahwa mereka memiliki masalah. Ketika wabah SARS dapat dikendalikan, telah ada 8.000 kasus dan 700 kematian di 37 negara berbeda.

WHO memutuskan bahwa mendeklarasikan kondisi darurat, yang diperkenalkan sebagai bagian dari Regulasi Kesehatan Internasional pada 2005, akan membantu mengelola situasi-situasi seperti ini.

Sebelumnya, dengan payung hukum yang telah berusia 150 tahun, kolera, wabah, dan demam kuning dikendalikan dengan karantina dan embargo di perbatasan negara. Sedangkan, kerangka hukum tahun 2005 berfokus pada penanggulangan wabah pada sumbernya yang ditekankan pada kesiapan menghadapi wabah ini.

Hukum ini mengharuskan negara untuk mempertahankan “kapasitas inti” yang diperlukan seperti kemampuan dalam mendiagnosis infeksi dan mengisolasi pasien yang terinfeksi.

Bukan hanya mampu melaporkan penyakit tertentu yang diketahui, sebuah negara harus mampu melaporkan pola kesehatan masyarakat yang tidak biasa, misalnya peningkatan tak terduga pada pasien yang memiliki gejala pernapasan parah.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X