Kompas.com - 27/01/2020, 17:03 WIB
Seorang perempuan warga kota Wuhan, China, mengenakan masker untuk menghindari terinfeksi virus corona yang mematikan saat berbelanja di sebuah pasar di kota Wuhan, Minggu (26/2/2020). AFP/HECTOR RETAMALSeorang perempuan warga kota Wuhan, China, mengenakan masker untuk menghindari terinfeksi virus corona yang mematikan saat berbelanja di sebuah pasar di kota Wuhan, Minggu (26/2/2020).

Analisis bagian dari kolaborasi dengan Forum Ekonomi Dunia dan Yayasan Bill dan Melinda Gates, melihat kemungkinan yang akan terjadi jika pandemi berasal dari peternakan babi di Brasil.

Ini seperti virus corona dari Wuhan yang juga berasal dari pasar makanan laut yang menjual hewan hidup.

Virus dalam simulasi yang dilakukan Eric akan tahan terhadap vaksin modern jenis apapun. Hal itulah yang membuat virus simulasi itu lebih mematikan daripada SARS, tetapi seolah lebih ringan dari gejala flu.

Baca juga: Jangan Salah, Begini Cara Pakai Masker untuk Cegah Virus Corona

Dalam simulasi, wabah tersebut mulai menyebar dari kecil hingga berpengaruh ke beragam sektor. Petani mulai mengalami gejala seperti flu dan pneumonia. Dari sana, virus menyebar ke lingkungan perkotaan yang padat dan miskin di Amerika Selatan.

Selain itu, penerbangan dibatalkan dan pemesanan perjalanan turun hingga 45 persen, serta informasi palsu atau hoaks menyebar di media sosial.

Setelah enam bulan, virus telah menyebar ke seluruh dunia, dan setahun kemudian (18 bulan) virus itu telah menewaskan 65 juta orang.

Sulitnya membuat vaksin virus corona

Dalam simulasi CAPS tersebut, para ilmuwan tidak dapat mengembangkan vaksin pada waktunya untuk menghentikan pandemi.

Hal ini dianggap asumsi yang realistis karena bahkan virus corona yang asli seperti SARS atau MERS belum memiliki vaksin. Padahal, SARS atau MERS membunuh lebih dari 840 orang sejak 2012.

"Jika kita bisa membuatnya (vaksin) sehingga kita bisa memiliki vaksin dalam beberapa bulan, bukan tahun atau dekade, itu akan mengubah alur kejadiannya," kata Eric.

Baca juga: Cegah Virus Corona, 19 Pintu Masuk Indonesia Diperketat, Ini Daftarnya

Namun bukan hanya vaksin potensial yang perlu dipikirkan, melainkan juga skala distribusi.  Jika para ilmuwan tidak menemukan cara untuk mengembangkan vaksin lebih cepat, kata Eric, wabah berbahaya akan terus menyebar.

Penyakit menular dapat cepat berkembang biak karena perkotaan semakin padat, dan kurangnya ruang untuk kehidupan satwa liar.

"Itulah bagian dari dunia yang kita tinggali sekarang. Kita berada di zaman epidemi," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.