Kompas.com - 22/01/2020, 08:47 WIB

"Namun, penelitian belum dapat mengkonfirmasi hipotesis ini. Mengganti estrogen - misalnya dengan patch hormon - untuk mencegah serangan jantung belum terbukti efektif. Perempuan tampaknya dilindungi oleh jenis kelamin mereka di usia muda. Ini bisa saja ada hubungannya dengan menstruasi. Ini ditunjukkan, misalnya, oleh fakta bahwa menopause dini - dan juga siklus menstruasi yang diakhiri secara sengaja - meningkatkan risiko serangan jantung," ujar Profesor Heribert Schunkert, direktur Pusat Jantung Jerman di München.

Serangan jantung rata-rata dialami para perempuan dalam jangka waktu sepuluh hingga 15 tahun lebih lambat daripada pria, yaitu pada dekade kedelapan, ketika perubahan fisik setelah menopause benar-benar telah stabil.

Menurut sebuah studi di jurnal Nature, serangan jantung pada perempuan hanya bertanggung jawab atas terjadinya gagal jantung pada 50 persen kasus. Namun angka sama lazimnya pada kasus kelemahan otot jantung.

"Kelemahan otot jantung dapat terjadi, misalnya, sebagai akibat tekanan darah tinggi. Jantung harus bekerja lebih keras. Akibatnya, otot jantung perempuan menegang. Jantung terus memompa dengan baik, tetapi tidak bisa menjadi rileks. Ini membuat bagian dalam jantung tidak bisa lagi terisi darah dengan benar," jelas Profesor Schunkert.

Gejala khas kelemahan otot jantung adalah sesak napas, terutama setelah aktivitas fisik. Darah yang tidak bisa mengalir ke jantung akan menumpuk dan menekan paru-paru.

Gejala serangan jantung yang harus diwaspadai perempuan

Gejala khas serangan jantung adalah nyeri yang parah di dada - setidaknya itu yang terjadi pada laki-laki.

Pada perempuan, serangan jantung dapat dialami dengan gejala seperti kelelahan ekstrem, mual, muntah dan sesak napas.

Akibatnya, masalah jantung pada perempuan kerap kali terlambat dikenali baik oleh pasien sendiri, maupun oleh dokter yang menangani.

Pada perempuan, nyeri dada yang menekan atau menusuk dapat juga mengindikasikan serangan jantung.

Nyeri tersebut bisa bertahan lebih dari lima menit dan dapat menyebar ke lengan, perut, punggung, leher dan bahkan sampai ke rahang.

Selain itu, sering ada sesak atau tekanan di area jantung yang terasa seolah daerah dada sedang diperas. Terkait dengan rasa sakit dan tertekan, sering juga didapati rasa takut yang amat kuat.

Sebaliknya, ada juga serangan jantung yang hampir tanpa gejala. Ini utamanya terjadi pada perempuan penderita diabetes karena diabetes merusak saraf dan menghambat pengiriman sensasi rasa sakit ke otak.

Meski tanda-tanda serangan jantung pada perempuan sering tidak spesifik, setiap detik sangat berharga.

"Harus sangat berhati-hati jika gejalanya parah dan belum pernah dialami sebelumnya. Dalam kasus mual parah yang tidak dapat dijelaskan, yang mungkin juga ditambah dengan sesak napas, Anda tidak perlu ragu memanggil dokter darurat," kata Schunkert.

Faktor risiko pada perempuan

Faktor risiko utama gagal jantung adalah tekanan darah tinggi, juga bagi perempuan.

Menurut sebuah studi dari AS, hipertensi pada perempuan dimulai lebih awal dan meningkat lebih cepat daripada pada pria.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.