Kompas.com - 27/12/2019, 12:03 WIB
Ilustrasi mikroba. Tribun BanjarmasinIlustrasi mikroba.

KOMPAS.com - Permasalahan Antimicrobial Resistance (AMR) yang semakin meningkat setiap tahunnya, menjadikan berbagai elemen bidang kesehatan sigap membuat inovasi dan standarisasi penanganan resistensi tersebut.

Percepatan untuk memutuskan rantai peningkatan prevalensi kasus pasien dengan AMR, atau setidaknya menekan angka kejadian tersebut, menjadi pilihan yang seharusnya dilakukan berbagai aspek terkait.

Dengan populasi sekitar 260 juta jiwa, pada 2000-2012, Indonesia tercatat memiliki tingkat resistensi tertinggi untuk Imipenem di antara negara-negara di Asia dengan angka 6 persen.

Ironisnya, prevalensi AMR di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun, hingga saat ini mencapai 64 persen.

Baca juga: Ahli Sebut Resistensi Antimikroba Harus Segera Ditangani

Baik itu pemangku kebijakan, lembaga atau organisasi kesehatan, para ahli medis, serta masyarakat menjadi target tujuan edukasi dan pelaksanaan tatalaksana.

Hal itulah yang disampaikan oleh Ketua Komite Pengendalian Resisten Antibiotik (KPRA), Dr dr Hari Paraton SpOG dalam acara bertajuk bertajuk "Indonesia Memerangi Antimicrobial Resistance (AMR)", Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Setidaknya kita punya enam strategi untuk dapat melakukan percepatan untuk menekan atau menuntaskan salah guna antibiotik yang mengakibatkan resisten antimikroba (AMR)," kata dia.

Baca juga: 10 Langkah untuk Cegah Resistensi Antimikroba pada Hewan Ternak

Berikut enam strategi yang dimaksudkan oleh dr Hari:

1. Melakukan penyuluhan

Penyuluhan dilakukan dengan cara meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kader, masyarakat dan dokter atau tim medis, serta pemangku kebijakan.

dr Hari menyebutkan penyuluhan tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan semua elemen terkait betapa pentingnya menjaga diri dari dampak buruk akibat penggunaan yang salah tentang antibiotik.

2. Melakukan survei

dr Hari menyebutkan Indonesia dalam bidang kesehatan dikenal sebagai negara yang memiliki kasus, tetapi tidak memiliki data sebagai data based atau acuan pengembangan dan evaluasi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.