Kesenjangan Emisi CO2, PBB Ingatkan Bencana Iklim Mematikan

Kompas.com - 28/11/2019, 20:09 WIB
Warga beraktivitas di Setupatok yang mengering akibat dilanda kemarau panjang, Mundu, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (12/11/2019). Belum meratanya curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia menjadikan beberapa daerah masih mengalami kekeringan. KOMPAS.com/M ZAENUDDINWarga beraktivitas di Setupatok yang mengering akibat dilanda kemarau panjang, Mundu, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (12/11/2019). Belum meratanya curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia menjadikan beberapa daerah masih mengalami kekeringan.

KOMPAS.com - Dengan ditandatanganinya Persetujuan Paris tentang perubahan iklim pada tahun 2015, para pemimpin dunia sepakat untuk membatasi pemanasan global di akhir abad ini menjadi 1,5 derajat Celsius (idealnya) atau tidak lebih dari 2 derajat Celsius.

Tetapi sebuah laporan dari PBB yang diterbitkan Rabu (26/11/2019) mengatakan, target tersebut masih sangat jauh untuk bisa dicapai.

Alih-alih mengurangi emisi, manusia justru melepaskan lebih banyak CO2 pada 2018 dibanding sebelumnya, menurut Laporan Kesenjangan Emisi Global tahunan itu.

Tahun lalu misalnya, 55,3 gigaton CO2 global dipompa ke atmosfer, meningkat dibanding pada 2017 sebanyak 53,5 gigaton.

Menurut laporan itu, suhu global diperkirakan akan naik sekitar 3,2 derajat Celsius pada tahun 2100, sehingga akan membawa bencana iklim, seperti suhu yang semakin panas, gelombang panas yang lebih mematikan, bahkan banjir dan kekeringan yang akan semakin sering terjadi.

Baca juga: PLTA Batangtoru Diklaim Bisa Kurangi Emisi CO2 1,6 Juta Metrik Ton

Perubahan kecil dari pencemar besar

"Kegagalan kolektif dalam bertindak cepat dan keras akan perubahan iklim mengharuskan kita untuk mengurangi emisi lebih besar, lebih dari 7 persen per tahun jika kita membagi rata selama satu dekade berikutnya," kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif PBB untuk Program Lingkungan (UNEP).

"Dari 2030, 15 gigaton CO2 harus dikurangi setiap tahunnya," tambahnya.

Jumlah itu kira-kira sama dengan gabungan emisi tahunan dari Uni Eropa, India, Rusia, dan Jepang.

Upaya untuk mengurangi emisi CO2 harus ditingkatkan lima kali lipat untuk mencapai target 1,5 derajat Celsius, sebuah proyeksi yang sudah ditulis dalam laporan versi sebelumnya.

Bedanya, menurut Anne Ohlhoff, salah satu penulis untuk laporan tahun 2019, mengatakan bahwa waktu perlahan-lahan sudah mulai habis.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X