Sebelum Dinosaurus, Komodo Purba Berkepala Besar Berkeliaran di Bumi

Kompas.com - 25/11/2019, 18:04 WIB
Erythrosuchids hidup pada masa akhir Permo-Triassic. Panjang tubuhnya mencapai 3-5 meter, memiliki empat kaki, dengan satu fitur tidak biasa yakni kepala berukuran lebih besar dari badannya. MARK WITTONErythrosuchids hidup pada masa akhir Permo-Triassic. Panjang tubuhnya mencapai 3-5 meter, memiliki empat kaki, dengan satu fitur tidak biasa yakni kepala berukuran lebih besar dari badannya.

KOMPAS.com – Jutaan tahun sebelum dinosaurus hidup di Bumi, terdapat sebuah famili mirip komodo namun berkepala besar. Famili itu kerap disebut red crocodiles (buaya merah), dengan nama latin Erythrosuchids.

Mengutip Science Alert, Senin (25/11/2019), Erythrosuchids hidup pada masa akhir Triassic. Panjang tubuhnya mencapai 3-5 meter, memiliki empat kaki, dengan satu fitur tidak biasa yakni kepala berukuran lebih besar dari badannya.

Simpulan ini berdasarkan penemuan fosil Erythrosuchids di Rusia beberapa waktu lalu. Para ilmuwan menyebutkan Erythrosuchids memiliki ukuran kepala paling besar dibanding jenis reptil lainnya, bahkan terbesar dari semua jenis dinosaurus yang pernah ada.

“Kami belum mengetahui kenapa ia (Erythrosuchids) memiliki kepala dengan ukuran besar. Mungkin bisa dikaitkan dengan perannya sebagai predator utama pada masa ekosistem Triassic,” tutur Richard Butler selaku ahli fosil (palaeobiologist) dari University of Birmingham.

Baca juga: Tulang Paha Dinosaurus Raksasa Ditemukan, Beratnya 500 Kg

Memiliki kepala berukuran besar, menurut Richard, berarti lebih mudah bagi spesies tersebut untuk menangkap mangsa.

Genus tertua dari Erythrosuchids adalah Garjainia, dengan sampel ditemukan di Rusia (Vjushkovia triplicostata) dan Afrika Selatan (Garjainia prima).

Kedua genus tersebut diketahui merupakan terrestrial hypercarnivores, yang berarti 70 persen makanan mereka adalah daging. Serupa dengan buaya pada masa sekarang.

Fosil Garjainia ditemukan di Rusia dalam bentuk hampir utuh. Namun, para ilmuwan masih mencocokkan hubungan antara Garjainia prima dengan Vjushkovia triplicostata.

Baca juga: Video: Serangga Raksasa Makan Bangkai Buaya, Seperti di Era Dinosaurus

Keduanya bahkan bisa jadi merupakan spesies yang sama. Kepalanya sama-sama berukuran sangat besar, mencapai seperempat ukuran tubuh mereka. Para ilmuwan membandingkan proporsi tubuh spesies ini dengan 89 mamalia yang hidup masa sekarang, lepidosaurus dan buaya, serta 41 fosil dinosaurus dan pterosaurus dari zaman awal Triassic. Namun para ilmuwan tidak menemukan proporsi tubuh yang sama dengan spesies satu ini.

“Mereka mestinya memiliki otot leher yang sangat kuat untuk menopang kepala sebesar itu. Namun studi mengenai ototnya belum rampung dilakukan,” tutur Richard.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X