Video: Serangga Raksasa Makan Bangkai Buaya, Seperti di Era Dinosaurus

Kompas.com - 12/04/2019, 19:32 WIB
Kutu raksasa lahap memakan bangkai buaya jauh di bawah permukaan laut. Kutu raksasa lahap memakan bangkai buaya jauh di bawah permukaan laut.

KOMPAS.com - Para ilmuwan dari Konsorsium Kelautan Universitas Louisiana (LUMCON) merekam aksi sekelompok invertebrata raksasa alias serangga melahap bangkai buaya. Kejadian ini terjadi di dasar laut teluk Meksiko, dua kilometer di bawah permukaan air.

Dalam waktu 24 jam entah bagaimana sekelompok serangga mirip kutu mengendus bau makanan dan menyerbunya.

"Saya terkejut saat tiba-tiba isopoda ( hewan dari ordo krustaseo meliputi kutu) raksasa ada di atas bangkai buaya," ujar Craig McClain salah satu anggota tim LUMCON dalam video.

"Saya pikir butuh waktu lebih lama untuk mereka menyadari dan mencium isyarat kimia untuk mendatangi makanan besar seperti buaya," imbuh dia.

Perilaku ini pada akhirnya dapat membantu para ilmuwan memahami kenapa saat terjadi tabrakan asteroid 65 juta tahun lalu, beberapa makhluk laut tetap bertahan hidup.

Apa hubungannya dengan fenomena tersebut?

Baca juga: Pertama dalam Sejarah, Jejak Kulit Dinosaurus Ditemukan

Melansir Science Alert, Jumat (12/4/2019), isopoda raksasa berwarna merah muda seperti yang kita lihat dalam video memiliki nama ilmiah Bathynomus giganteus. Mereka merupakan kelompok hewan kuno yang sudah hidup di laut dalam sejak 200 sampai 300 juta tahun lalu.

Seperti dijelaskan para pakar dalam video mereka, serangga menakutkan itu masih terkait dengan pillbug (Armadillidiidae), krustasea keluarga kutu kayu, kecuali ukurannya yang besar.

B. giganteus hidup di laut dalam dan mampu hidup tanpa makanan selama berbulan-bulan, bahkan kadang ada yang sampai bertahun-tahun.

Hidup jauh di bawah permukaan laut, mereka tidak terpapar cahaya matahari dan sangat bergantung dengan karbon. Itu artinya ketika hewan laut besar mati dan tenggelam, bangkainya akan menjadi oasis makanan paling sempurna.

Sungai-sungai besar, badai tropis dan angin topan berperan dalam membawa buaya ke teluk, seperti halnya saat terjadi badai Katrina.

Berkat rekaman tenggelamnya reptil besar ini, kita akhirnya juga paham bahwa bangkai hewan tak akan berakhir sia-sia. Setidaknya ada isopoda raksasa yang siap melahapnya.

Selepas isopoda raksasa memakan bagian dalam organ, organisme kecil mungkin akan datang dan membersihkan sisanya.

Baca juga: 69 Juta Tahun Lalu, Dinosaurus Paruh Bebek Jambul Hidup di Kutub Utara

Para ilmuwan memperkirakan setengah bangkai akan hilang dalam dua bulan. Mari kita tunggu saja dan lihat apa yang akan terjadi nanti.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Oh Begitu
Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Fenomena
Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Fenomena
Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Fenomena
Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Fenomena
Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Oh Begitu
Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Fenomena
Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Fenomena
Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Oh Begitu
Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Fenomena
Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Fenomena
Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X