Kompas.com - 20/11/2019, 19:04 WIB
Ilustrasi ekshibisionisme shutterstock.comIlustrasi ekshibisionisme

Hal ini membuat ekshibisionis biasanya merasa berbeda dari orang lain sehingga semakin menarik diri dari pergaulan sosial dan merasa malu.

Baca juga: Kasus Pertama di Dunia, Demam Berdarah Ditularkan Lewat Hubungan Seks

Penanganan ekshibisionisme

Untuk menangani gangguan ini, tindakan yang dapat dilakukan ekshibisionis adalah dengan melakukan terapi.

Biasanya, terapi dilakukan dengan memadukan psikofamaka (obat) dengan psikoterapi. Namun, tentunya harus diakukan juga evaluasi menyeluruh untuk mengetahui apakah terdapat gangguan jiwa lain yang memerlukan terapi dalam bentuk lainnya.

“Perlu diperhatikan bahwa orang dengan ekshibisionisme adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa atau mental, yang memerlukan pertolongan secara medis. Hendaknya kita memandang orang-orang tersebut secara objektif,” kata Alvina.

Apabila Anda bertemu dengan orang yang memperlihatkan alat kelaminnya, sebisa mungkin Anda mengabaikan dan menjauh dari orang tersebut.

Bila timbul perasaan tidak nyaman yang menetap setelah bertemu dengan orang yang menunjukkan ciri-ciri ekshibisionis, Anda bisa mencari bantuan profesional (psikolog/psikiater) untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X