Salin Artikel

Cara Tangani Ekshibisionisme agar Tak Jadi Teror Sperma Tasikmalaya II

KOMPAS.com - Baru-baru, terjadi teror lempar sperma dan begal payudara di Tasikmalaya. Pelaku yang bernama Sigit Nugraha (25) mengaku bahwa aksinya dilakukan untuk memuaskan nafsu seksual.

Kejadian ini pun mengangkat perilaku ekshibisionisme ke mata publik. Namun, apa itu ekshibisionisme dan dampak buruknya? Lalu, bisakah ditangani?

Menurut dr. Alvina SpKJ, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Barat, ekshibisionisme adalah salah satu bentuk penyimpangan seksual (sexual deviation) di mana pelaku memperlihatkan alat kelaminnya pada orang asing.

Ekshibisionisme termasuk gangguan jiwa di bawah payung gangguan parafilia, yaitu bentuk dari penyimpangan seksual.

Perilaku ini dilatarbelakangi oleh adanya fantasi seksual dan dorongan seksual yang kuat. Umumnya, penyakit ini terjadi dalam periode enam bulan.

“Sama seperti gangguan jiwa lainnya, kondisi ini bisa terjadi karena interaksi faktor biologis (seperti gen), psikologis (kondisi psikologis orang tersebut), dan sosial (seperti pola asuh dan lingkungan),” ujar Alvina, seperti dilansir dari siaran pers RS Awal Bros (19/11/2019).

Namun, tidak ada ciri-ciri spesifik yang menandakan penderita ekshibisionisme (ekshibisionis).

Alvina juga menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan orang yang memiliki kondisi ekshibisionisme juga memiliki gangguan jiwa lainnya, seperti kesulitan dalam bersosialisasi dan memiliki kepercayaan diri yang rendah.

“Biasanya, target ekshibisionis adalah orang asing yang tidak dikenal” sambungnya.

Selain itu, dampak berkelanjutan dalam diri ekshibisionis yaitu merasakan kepuasan seksual dan sesaat kemudian merasa bersalah. Namun, penderita tidak bisa menahan dorongan untuk melakukannya kembali.

Hal ini membuat ekshibisionis biasanya merasa berbeda dari orang lain sehingga semakin menarik diri dari pergaulan sosial dan merasa malu.

Penanganan ekshibisionisme

Untuk menangani gangguan ini, tindakan yang dapat dilakukan ekshibisionis adalah dengan melakukan terapi.

Biasanya, terapi dilakukan dengan memadukan psikofamaka (obat) dengan psikoterapi. Namun, tentunya harus diakukan juga evaluasi menyeluruh untuk mengetahui apakah terdapat gangguan jiwa lain yang memerlukan terapi dalam bentuk lainnya.

“Perlu diperhatikan bahwa orang dengan ekshibisionisme adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa atau mental, yang memerlukan pertolongan secara medis. Hendaknya kita memandang orang-orang tersebut secara objektif,” kata Alvina.

Apabila Anda bertemu dengan orang yang memperlihatkan alat kelaminnya, sebisa mungkin Anda mengabaikan dan menjauh dari orang tersebut.

Bila timbul perasaan tidak nyaman yang menetap setelah bertemu dengan orang yang menunjukkan ciri-ciri ekshibisionis, Anda bisa mencari bantuan profesional (psikolog/psikiater) untuk berkonsultasi lebih lanjut.

https://sains.kompas.com/read/2019/11/20/190400723/cara-tangani-ekshibisionisme-agar-tak-jadi-teror-sperma-tasikmalaya-ii

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Oh Begitu
BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

Fenomena
Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Oh Begitu
Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.