Cara Jadi Generalis Spesialis untuk Jawab Tantangan Ekonomi Digital

Kompas.com - 14/11/2019, 07:04 WIB
Ilustrasi bekerja dengan gembira plustwentysevenIlustrasi bekerja dengan gembira

Sejak itu, Sapiens berhasil menjelajahi seluruh dataran di bumi dengan kondisi beragam: menaklukkan sabana Afrika, gurun di semenanjung Arab, dataran tinggi Tibet yang dingin, hingga hutan tropis di Indonesia.

Bukan hanya melewati, sebagian dari populasi Sapiens ini justru kemudian menetap dan berkembang biak di suatu lingkungan tertentu menggantikan spesies manusia lain seperti Homo neanderthalensis atau Homo erectus.

Di sinilah letak simultannya, di satu sisi dengan sifat adaptifnya Sapiens bisa bertahan di berbagai kondisi lingkungan, tapi di sisi lain sebagian populasi Sapiens menspesialisasikan dirinya ke dalam kondisi tertentu. Bahkan sampai berkoloni hingga membangun peradaban di tempat tersebut.

Hapuskan dikotomi

Diskusi apakah manusia sebagai makhluk generalis atau spesialis tidak hanya relevan di bidang arkeologi dan sejarah, tapi juga dapat diadaptasi ke bidang pengembangan diri dan pendidikan kontemporer dengan konteks yang sedikit berbeda.

Pertanyaan yang jamak kita temukan adalah mana yang lebih baik bagi karir seseorang pada masa depan, menjadi seorang generalis yang memahami banyak bidang ilmu di permukaan (disebut juga “jack of all trades master of none”) atau menjadi seorang spesialis yang fokus menguasai satu pengetahuan tertentu secara mendalam?

Merujuk pada studi Robert dan Stewart tersebut, sudah saatnya kita tidak lagi mendikotomikan kedua peran tersebut. Dalam era perubahan teknologi yang begitu cepat hari ini, dalam situasi yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, peran manusia yang adaptif dalam berbagai kondisi yang ekstrem menemukan kembali relevansinya.

Menjadi seorang generalis dan spesialis di saat bersamaan bukan hal yang mustahil, bahkan boleh jadi harus kita lakukan untuk dapat bertahan pada zaman disrupsi inovasi dan digitalisasi ini.

Memang, menurut doktrin klasik Adam Smith spesialisasi pekerjaan akan membuat organisasi lebih efisien. Dengan adanya pembagian pekerjaan, seseorang akan memiliki kepakaran spesifik di suatu bidang sehingga produktivitasnya akan meningkat.

Namun, saat ini, spesialisasi ilmu dan kepakaran justru membatasi kapasitas adaptif manusia yang tidak terbatas. Para spesialis justru sangat rentan dengan perubahan.

Satu orang banyak bidang

Menjadi generalis spesialis artinya menjadi seseorang yang tidak berhenti belajar. Ia tidak hanya memiliki spesialisasi kepakaran di satu bidang ilmu, tapi juga berusaha memperdalam bidang-bidang ilmu lain yang sesuai dengan tantangan zaman.

Berbeda dengan generalis yang hanya memahami kulit-kulitnya saja, seorang generalis spesialis dituntut untuk menjadi pakar di banyak bidang.

Seorang sarjana teknik misalnya, ketika masuk ke dunia kerja di bidang perbankan akan dituntut memahami ilmu keuangan dan investasi. Kemudian, saat suatu hari ia dirotasi ke bidang sumber daya manusia (SDM) ia harus paham ilmu manajemen. Untuk beradaptasi dengan teknologi digital, ia pun harus mempelajari dasar-dasar analisis dan intrepretasi data berbasis pemrograman.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Oh Begitu
Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Oh Begitu
Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Oh Begitu
Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Oh Begitu
Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Oh Begitu
Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Oh Begitu
Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Oh Begitu
Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Oh Begitu
Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Fenomena
Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Oh Begitu
Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Fenomena
Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Oh Begitu
AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

Oh Begitu
Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Oh Begitu
Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X