Kompas.com - 06/11/2019, 13:06 WIB
Ilustrasi polusi udara DragonImagesIlustrasi polusi udara

KOMPAS.com — Amerika Serikat (AS) menjadi negara pertama yang menarik diri dari kesepakatan iklim Paris, yakni perjanjian antara negara-negara PBB untuk membatasi polusi dan emisi gas rumah kaca serta mengatasi masalah perubahan iklim lain di Paris tahun 2015.

Pada Senin (04/11/2019), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengajukan pemberitahuan resmi kepada PBB untuk memulai proses penarikan negaranya selama satu tahun.

"Kami (AS) bangga atas tindakan kami sebagai pemimpin dunia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan ketahanan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan memastikan energi bagi warga negara kami. Tindakan kami adalah contoh yang nyata dan bermanfaat bagi banyak pihak," tulis Pompeo di Twitter.

Saat menghadiri pameran dagang di China, Selasa (05/11/2019), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, masing-masing negara harus meningkatkan komitmennya untuk mengurangi emisi dan menghadirkan energi terbarukan.

Baca juga: Apa Bedanya Pemanasan Global dengan Perubahan Iklim?

"Kerja sama antara China dan Uni Eropa dalam hal ini sangat menentukan," kata Macron.

"Tahun depan, kita perlu secara kolektif menyukseskan agenda peningkatan upaya ini."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seorang asisten Presiden Macron, yang juga ikut berkunjung ke China, mengatakan langkah AS menarik diri dari kesepakatan iklim Paris memang telah diprediksi.

"Kami menyesali hal itu, dan ini justru membuat kemitraan Perancis-China terhadap penanganan perubahan iklim dan keanekaragaman hayati menjadi lebih penting," ujar asisten yang menolak disebutkan namanya ini.

Ia juga menambahkan, Macron dan Presiden China Xi Jinping akan menandatangani perjanjian baru yang menegaskan tidak boleh ada negara yang keluar dari kesepakatan iklim Paris. Keduanya akan mengadakan pertemuan resmi di Beijing pada Rabu (06/11).

Mengingkari janji Obama

Seperti negara-negara anggota PBB lain, sebelumnya AS juga menyetujui kesepakatan yang dibuat tahun 2015 tersebut.

Di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, AS berjanji untuk memotong 26-28 persen emisi gas rumah kaca mereka dibandingkan dengan tahun 2005. Rencana ini pun ditargetkan tercapai tahun 2030.

Namun, berbeda pandangan dengan pendahulunya, kini Donald Trump justru berulang kali mengecam perjanjian itu berbahaya bagi ekonomi AS.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pengumuman penting pada 27 Oktober 2019 di Gedung Putih. Trump mengumumkan kematian Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat penyerbuan malam oleh pasukan AS.AFP/JIM WATSON Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pengumuman penting pada 27 Oktober 2019 di Gedung Putih. Trump mengumumkan kematian Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat penyerbuan malam oleh pasukan AS.

"Apa yang tidak akan kami lakukan adalah menyusahkan orang-orang Amerika, sementara para pencemar iklim pihak asing memperkaya diri," ujar Trump saat menghadiri konferensi industri gas berbentuk serpihan di Pennsylvania, bulan lalu.

Sebelum mencalonkan diri sebagai Presiden AS, Trump sempat mengatakan pemanasan global adalah "tipuan yang dilakukan oleh China".

Aktivis mengharapkan perubahan

Hanya beberapa hari setelah Trump memenangi pemilu AS tahun 2016, pemerintah telah meratifikasi kesepakatan iklim Paris pada November di tahun yang sama.

Aturan kesepakatan tersebut menyatakan AS harus menunggu tiga tahun sebelum secara resmi menarik diri. Namun, saat ini sebuah tim telah dibentuk untuk mengurus segala proses teknis terkait penarikan diri AS.

Nanti, penarikan AS dari kesepakatan iklim Paris akan selesai pada 4 November 2020, tepat satu hari setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) berikutnya diadakan.

Para aktivis lingkungan di AS berharap Trump gagal dalam Pilpres tahun depan. Mereka ingin Trump diganti oleh kandidat presiden dari Partai Demokrat, yang sebelumnya telah berjanji untuk mempertahankan kesepakatan iklim Paris jika menang.

Baca juga: Perubahan Iklim Kurangi Kemampuan Tanah untuk Serap Air

"Presiden berikutnya perlu bergabung kembali dalam perjanjian iklim Paris, dan berkomitmen terhadap penyelesaian tuntutan perubahan iklim, dengan menghadirkan transformasi energi bersih yang dilakukan secara cepat dan luas," ujar Jean Su, Direktur Energi Pusat Keragaman Hayati, yang berkedudukan di AS.

"Trump bisa keluar dari kesepakatan iklim Paris, tetapi tidak bisa bersembunyi dari krisis perubahan iklim," katanya.

AS dan China adalah penghasil karbon dioksida terbanyak jika dibandingkan dengan negara mana pun di dunia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Kita
Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

Oh Begitu
Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Fenomena
Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Oh Begitu
Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.