Kompas.com - 21/09/2019, 18:05 WIB
- kirillov alexey-

KOMPAS.com - Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa perubahan iklim memiliki pengaruh yang lebih luas terhadap Bumi. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science Advances menyebut kalau perubahan iklim dapat menurunkan kemampuan tanah menyerap air.

Ini tentu kabar yang tak terlalu menggembirakan karena turunnya daya serap tersebut dapat berimplikasi pada pasokan air tanah, produksi dan keamanan pangan serta keanekaragaman hayati dan ekosistem.

"Pola curah hujan dan kondisi lingkungan bergeser secara global sebagai akibat dari perubahan iklim. Penelitian kami menunjukkan bagaimana hubungan air dan tanah kemudian dapat berubah di beberapa bagian belahan dunia dengan cukup cepat," kata Daniel Giménez, peneliti dari Rutgers University-New Brunswick.

Baca juga: Masuki Musim Hujan, Waspada dan Kenali Penyebab Tanah Longsor

Perubahan iklim diperkirakan akan membawa peningkatan curah hujan ke wilayah-wilayah tertentu di dunia. Dengan meningkatnya curah hujan, tanaman memiliki akar yang lebih tebal dan dapat menyumbat pori-pori atau ruang yang cukup besar ketika air akan masuk ke dalam tanah.

Padahal ruang-ruang tersebut bertugas menangkap air yang dapat digunakan tanaman dan mikroorganisme. Selain itu juga pori-pori berkontribusi pada peningkatan aktivitas biologis dan siklus nutrisi dalam tanah dan mengurangi kehilangan tanah melalui erosi. Peristiwa tersebut akhirnya menyebabkan berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah.

Studi tersebut berdasarkan hasil percobaan lapangan yang dilakukan dengan menggunakan sistem irigasi springkler di padang rumput.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tim peneliti secara buatan meningkatkan jumlah curah hujan rata-rata tahunan yang diterima oleh tanah sebesar 35 persen selama 25 tahun. Peningkatan curah hujan ini menyebabkan penurunan sebanyak 21-33 persen air yang terserap ke dalam tanah.

Baca juga: Tanah Jakarta Turun 4 Meter dalam 40 Tahun Terakhir

"Air yang tidak terserap oleh tanah menjadi limpasan air yang berbahaya karena mengandung polutan dan akan berdampak negatif pada kualitas air," tambah Giménez.

Air di tanah memiliki peran yang sangat penting, salah satunya untuk menyimpan karbon. Sehingga perubahan tanah pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat karbon dioksida di udara. Karbon dioksida sendiri merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang terkait dengan perubahan iklim.

Langkah selanjutnya, peneliti akan menyelidiki bagaimana ekosistem akan menanggapi perubahan iklim. Mereka ingin mempelajari berbagai faktor lingkungan dan jenis tanah yang lebih luas serta mengidentifikasi perubahan tanah lainnya akibat perubahan iklim.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

Oh Begitu
Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Fenomena
Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Oh Begitu
Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Oh Begitu
Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.