Kenapa Pecandu Narkoba Susah Berhenti dan Bisa Kambuh Lagi?

Kompas.com - 14/10/2019, 08:13 WIB
Ilustrasi narkoba. SHUTTERSTOCKIlustrasi narkoba.

Ketika dopamin yang tersimpan kerap terkuras berulang-ulang, otak tidak dapat mengatasinya dan mulai menutup beberapa struktur yang diperlukan untuk memindahkan dopamin ke sekitar otak.

Beberapa jalur dopamin utama melintas melalui bagian otak yang digunakan untuk berpikir - korteks prefrontal. Ketika sistem dopamin rusak pada bagian otak ini, akan jauh lebih sulit untuk kita memikirkan konsekuensi dan mempertimbangkan keputusan yang akan dibuat, sehingga penggunaan narkoba menjadi lebih otomatis.

Ketika dopamin habis karena penggunaan yang kronis, seseorang mungkin bisa merasa datar selama berbulan-bulan, bahkan ketika mereka berhenti menggunakan narkoba. Hal ini bisa menjadi motivasi penggunaan narkoba untuk kembali merasakan kesenangan.

Gejala putus obat

Otak kita sangat plastis dan, seiring berjalannya waktu, otak beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, lingkungan yang diciptakan oleh narkoba. Otak menyesuaikan terhadap peningkatan dopamin dan neurokimia lainnya dengan mengurangi produksi normal.

Seiring waktu, beberapa orang yang bergantung pada alkohol atau narkoba mengatakan bahwa mereka mengkonsumsinya hanya untuk membuat mereka merasa “normal”. Ini karena otak dan tubuh mereka telah beradaptasi dengan efek yang tercipta dari alkohol dan narkoba. Ini dikenal sebagai “toleransi”.

Jika Anda mengembangkan toleransi terhadap alkohol atau narkoba, ketika Anda berhenti menggunakannya, Anda mungkin akan merasakan gejala putus obat. Ketika obat meninggalkan sistem Anda, tubuh Anda mulai bereaksi karena tidak lagi memiliki alkohol atau obat lain dalam sistem Anda.

Proses ini sering tidak nyaman secara fisik dan psikologis dan kadang-kadang bisa menyakitkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menghindari gejala putus obat adalah motivasi kuat bagi pecandu untuk tetap mengonsumsi alkohol atau narkoba.

Seorang laki-laki dan anjing-anjingnya

Eksperimen terkenal oleh Ivan Pavlov pada 1890-an menunjukkan cara lain bagaimana ketergantungan bisa muncul.

Pavlov menemukan jika dia memberi makan anjing-anjing yang lapar dan membunyikan bel pada waktu yang bersamaan, lama-kelamaan anjing-anjing itu otomatis mengeluarkan air liur ketika mendengar suara bel, bahkan ketika tidak ada makanan. Ini disebut “pengondisian klasik”.

Seperti anjing milik Pavlov, ketika penggunaan narkoba dipasangkan dengan orang, tempat, benda atau perasaan tertentu, pada akhirnya mereka dapat terhubung.

Orang-orang, tempat, benda, atau perasaan ini menciptakan antisipasi penggunaan narkoba, bahkan ketika tidak ada narkoba di sekitarnya, yang dapat menghasilkan keinginan kuat untuk menggunakan narkoba. Ini kadang-kadang disebut “pemicu”.

Pemicu dapat memicu keinginan untuk mencari dan menggunakan narkoba.

Sebagai contoh, perokok sering merokok sambil minum alkohol. Alkohol kemudian dapat menjadi pemicu merokok bagi seseorang yang ingin berhenti. Mereka mungkin pergi keluar untuk minum dan tiba-tiba merasa perlu memiliki rokok, bahkan jika mereka sudah berhenti selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Faktor risiko lain bagi pecandu narkoba

Ada sejumlah faktor risiko untuk masalah narkoba yang sedang berkembang. Ini termasuk:

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X