Kompas.com - 06/10/2019, 20:05 WIB
Warga melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di desa Ganepo, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rabu (2/10/2019).Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Provinsi Kalteng masih terjadi meski hujan mulai turun. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di desa Ganepo, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rabu (2/10/2019).Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Provinsi Kalteng masih terjadi meski hujan mulai turun.

KOMPAS.com - Tak hanya melanda Indonesia, berbagai wilayah di belahan Bumi lainnya juga mengalami kebakaran hutan beberapa waktu ini.

Segala upaya pemadaman dilakukan untuk mengatasi bencana tersebut, namun tak semuanya berjalan maksimal. Saat air yang disemprotkan menguap, beberapa titik masih meninggalkan api yang belum padam sepenuhnya.

Namun, sebuah terobosan baru yang dikembangkan oleh para peneliti tampaknya bisa menjadi salah satu alternatif mengurangi kebakaran hutan.

Eric Appel dari Stanford University merancang cairan seperti gel. Cairan tersebut akan disemprotkan di vegetasi dan dapat menempel selama berbulan-bulan. Dengan melapisi area vegetasi luas yang rentan kebakaran, diharapkan teknik tersebut dapat mencegah kebakaran hutan, serta menjadi cara baru mengurangi kebakaran di masa depan.

Baca juga: Berbagai Kerugian yang Diderita Indonesia Akibat Kebakaran Hutan

"Metode ini akan menjadi pencegahan yang lebih proaktif. Sementara yang kita lakukan sekarang ini hanya melakukan pemantauan, menunggu hutan terbakar dan baru memadamkannya," kata Appel.

Untuk diketahui, pada saat ini petugas kebakaran menggunakan pemadam seperti garam amonium polifosfat anorganik atau APP yang akan menghasilkan air saat terbakar. Masalahnya, solusi itu hanya bekerja dalam jangka pendek. Saat air menguap, ada potensi kebakaran kembali terjadi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, gel yang dikembangkan Appel memiliki sifat lengket dan tahan api. Bahan gel terbuat dari bahan nabati yang mengandung selulosa. Ini artinya, bahan akan mampu bertahan pada vegetasi dalam berbagai kondisi, mulai dari hujan, angin, atau panas.

Appel juga menyebut jika bahan tersebut tidak beracun dan aman disemprotkan ke lingkungan menggunakan peralatan pertanian.

Baca juga: Kebakaran Hutan Amazon Akibat Deforestasi, Ini Efeknya secara Global

Cairan gel tersebut sejauh ini telah diuji pada rumput oleh Departemen Kehutanan dan Perlindungan Kebakaran California (CalFire). Hasilnya, semprotan gel memberikan perlindungan dari kebakaran, dan bisa bertahan setelah hujan lebat.

"Temuan ini bisa berpotensi mengurangi jumlah kebakaran," kata Alan Peters, kepala divisi CalFire.

Tak hanya untuk mencegah kebakaran, dalam dosis yang lebih besar, gel dapat pula digunakan untuk menghentikan kebakaran dengan cara disemprotkan ke api.

Kebakaran hutan terjadi makin intens di seluruh dunia seiring dengan memburuknya perubahan iklim. Metode serta teknik terbaru sangat dibutuhkan untuk mengatasi kondisi ini.

Temuan mengenai gel tersebut telah dipublikasikan dalam PNAS.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Fenomena
4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Oh Begitu
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia Hingga 9 Desember

BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia Hingga 9 Desember

Fenomena
Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Kita
Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Oh Begitu
Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Oh Begitu
Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Oh Begitu
Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Oh Begitu
Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Fenomena
[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

Oh Begitu
5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

Oh Begitu
Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Fenomena
4 Tahapan Siklus Menstruasi

4 Tahapan Siklus Menstruasi

Kita
Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Fenomena
Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.