Berbagai Kerugian yang Diderita Indonesia Akibat Kebakaran Hutan

Kompas.com - 18/09/2019, 19:00 WIB
Satgas Karhutla Riau melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Senin (16/9/2019). Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi membuat sejumlah wilayah di Provinsi Riau terpapar kabut asap. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/ama. Rony MuharrmanSatgas Karhutla Riau melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Senin (16/9/2019). Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi membuat sejumlah wilayah di Provinsi Riau terpapar kabut asap. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/ama.

KOMPAS.com - WWF-Indonesia, organisasi non pemerintah internasional yang menangani masalah konservasi dan lingkungan, menyatakan bahwa Karhutla 2019 di Indonesia sudah seharusnya dinyatakan darurat, mengingat dampak dari bencana ini sudah menyebabkan kerugian bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

Pasalnya, kebakaran hutan menyebabkan berbagai kerugian untuk masyarakat Indonesia, mulai dari gangguan kesehatan, sosial, ekologi, ekonomi dan juga reputasi.

Kerugian kesehatan adalah yang paling jelas. Asap dari kebakaran hutan menyebabkan berbagai penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Artikel Kompas.com, Selasa (17/9/2019) melaporkan bahwa berdasarkan catatan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Harrison, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) telah mengakibatkan sedikitnya 6.025 warga menderita ISPA. Sejumlah bayi juga harus diungsikan karena menderita batuk, flu, sesak napas dan muntah.

Baca juga: Selain Cuaca, Ada 2 Sebab Kebakaran Hutan Tahun Ini Luar Biasa Parah

 

Akibat kebakaran hutan, masyarakat setempat juga mengalami kerugian sosial berupa hilangnya hutan sebagai sumber mata pencaharian, penghidupan dan identitas masyarakat adat.

Tidak hanya itu, ada juga kerugian ekologi, seperti hilangnya habitat tempat keanekaragaman hayati flora dan fauna berada dan rusaknya ekosistem penting yang memberikan jasa lingkungan berupa udara dan air bersih beserta makanan dan obat-obatan.

Kondisi ekonomi Indonesia juga ikut merugi karena dengan terjadinya karhutla ini, sumber devisa negara dari produk hutan kayu dan non-kayu, serta ekowisata juga berkurang.

Lalu, di mata internasional, Indonesia juga mengalami kerugian reputasi karena menuai protes dari negara tetangga yang ikut terimbas asap kebakaran hutan.

Baca juga: Karhutla Ancam Eksistensi Satwa di Hutan Sumatera

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui SiPongi Karhutla Monitoring System, rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tahun 2019 mencapai 328.722 hektar, yang jika tanpa dukungan dan inovasi penanganan, bisa menjadi sama buruknya dengan tahun sebelumnya yaitu seluas 510.564,21 hektar.

Maka dari itulah, Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Lukas Adhyakso menyatakan bahwa karhutla yang terjadi saat ini sudah cukup dan perlu ditangani serius oleh berbagai pihak, karena hal ini sudah termasuk darurat.

"Ini sudah termasuk kebakaran parah, bahkan sudah 300.000 hektar seluruh Indonesia, kami mendorong pemerintah sudah menetapkan bahwa ini darurat karhutla," kata Lukas di Jakarta, Selasa (17/9/2019)

"Ini butuh kerjasama semua pihak terkait untuk meningkatkan kepedulian terhadap karhutla ini," imbuhnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X