Tanah Jakarta Turun 4 Meter dalam 40 Tahun Terakhir

Kompas.com - 10/07/2019, 19:36 WIB
Seorang warga melintas di Jalan Kerapu 3 Muara Angke yang terendam banjir, Jumat (25/1/2019). KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DSeorang warga melintas di Jalan Kerapu 3 Muara Angke yang terendam banjir, Jumat (25/1/2019).

KOMPAS.com - Permukaan tanah area-area pesisir Jakarta turun empat meter dalam waktu 40 tahun terakhir.

Fenomena ini disampaikan Organisation for Economic and Cooperation Development (OECD) dalam Green Growth Policy Review (GPPR) 2019 yang dirilis di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu (10/7/2019).

"Penurunan akibat ekstraksi air tanah yang berlebihan dan subsidensi lahan," tulis koordinator studi Eija Kiiskinen dan Britta Labuhn dalam laporannya.

Meskipun lima persen sumber air tawar dunia berada di Indonesia, beberapa wilayah di Indonesia justru menghadapi kelangkaan air. Mutu air tawar sering kali rendah akibat tercemar limbah rumah tangga dan industri yang tidak dibuang tanpa diolah terlebih dahulu. Separuh sungai-sungai di Jawa, pulau terpadat Indonesia, digolongkan tercemar atau tercemar berat.

Baca juga: Atasi Pencemaran Udara Jakarta, BPPT Akan Turunkan Hujan Buatan

Akses pada air dan sanitasi masing-masing meningkat 72 persen dan 68 persen pada 2017, tetapi ketimpangan antardaerah masih tinggi. Ekspansi jaringan pasokan air dan saluran pembuangan belum dapat menyamai pertumbuhan populasi dan urbanisasi.

Hal ini, ditambah dengan pencemaran air permukaan, memaksa banyak warga mengandalkan air tanah. Akibatnya, beberapa cekungan air mengalami ekstraksi berlebih.

"Berbagai inisiatif kebijakan yang bertujuan mengurangi polusi telah mencapai hasil yang positif. Namun, skalanya terlalu kecil untuk meningkatkan, secara signifikan, kualitas air di sungai yang ditargetkan," ujar Kiiskinen dan Labuhn.

Indonesia disarankan merumuskan strategi komprehensif untuk pasokan air, sanitasi, dan pengelolaan air limbah. Perkuat kapasitas untuk memantau tingkat air tanah dan menerapkan izin abstraksi dan pembuangan air.

Baca juga: Dipenuhi Gedung Bertingkat, Bagaimana Tawon Mematikan Vespa Affinis Hidup di Jakarta?

Pada awal Februari 2018, Direktur Pengairan dan Irigasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Abdul Malik Sadat Idris juga mengatakan bahwa permukaan tanah di Jakarta mengalami penurunan sekitar tiga sampai 18 sentimeter.

Seperti yang diberitakan, penurunan tanah ini disebabkan oleh beban bangunan gedung dan pengambilan air tanah yang tidak terkontrol.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X