Selain Cuaca, Ada 2 Sebab Kebakaran Hutan Tahun Ini Luar Biasa Parah

Kompas.com - 18/09/2019, 16:34 WIB
Petugas gabungan berupaya memadamkan karhutla mendekati rumah warga di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang,  Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (17/9/2019). KOMPAS.COM/IDONPetugas gabungan berupaya memadamkan karhutla mendekati rumah warga di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (17/9/2019).

KOMPAS.com - Kebakaran hutan terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan kabut asap hingga berujung kepada banyak kerugian, seperti kesehatan, sosial, ekologi, ekonomi juga reputasi.

Namun apa penyebab utama yang menjadikan karhutla tahun ini sangat parah?

WWF-Indonesia dalam rilisnya menyatakan bahwa penyebab karhutla yang terjadi di Indonesia saat ini cukup kompleks.

Tidak hanya cuaca; kondisi alam dan lemahnya pengawasan yang ada menjadi beberapa faktor karhutla parah ini kembali terjadi.

Selain itu, ulah manusia, baik korporasi maupun individu, yang seolah tak pernah sadar akan dampak dari membakar hutan dan lahan juga berdampak pada masyarakat luas.

Baca juga: Viral Gambar Peta Indonesia di Twitter, Ini Kata BMKG Soal Karhutla

Alasan yang paling dominan dari perlakuan tersebut yaitu mencari keuntungan komersial melalui praktik pembukaan lahan yang masih menggunakan metode pembakaran karena dianggap lebih mudah dan aman.

Pembakaran Lahan

Directur Policy dan Advocacy WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, menyatakan bahwa faktor utama kebakaran hutan yang terjadi saat ini bukanlan cuaca.

"Musim kemarau saat ini ya normal, atau bukan yang extraordinary (luar baisa). Tapi ya itu, ulah 'cukong' (mafia) yang membiayai masyarakat untuk membakar lahan pada musim kemarau saat inilah yang menjadi faktor utamanya. Penyebabnya pembukaan lahan di saat musim kemarau ini oleh oknum pengusaha," kata Aditya yang akrab disapa Dito ini.

"Saya sih melihatnya banyak yang sifatnya cukong-cukong itu modelnya. Bisa juga ada perusahaan, mereka membiayai masyarakat untuk membuka lahan, dan itu sulit kalau masyarakat (yang melakukan) karena biaya besar. Tapi karena ada yang membiayai atau ngasih upah besar, makanya oknum masyarakat mau membakar lahan saat kemarau begini," imbuhnya.

Baca juga: Riau Dikepung Kabut Asap, Greenpeace Nilai Situasi Mirip Karhutla 2015

Ditambahkan oleh Direktur Utama PT ABT (Perusahaan Restorasi Ekosistem/RE), Dody Rukman, bahwa karhutla terindikasi disebabkan adanya perambahan hutan dan pembukaan lahan ilegal oleh sekelompok oknum yang terorganisir.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X