Kompas.com - 14/09/2019, 12:07 WIB
Ilustrasi K2-18b, bintang induknya dan plannet lain di sistem tersebut. ESA/Hubble, M. KornmesserIlustrasi K2-18b, bintang induknya dan plannet lain di sistem tersebut.

KOMPAS.com - Untuk kali pertama, para astronom menemukan uap air di atmosfer sebuah planet yang nun jauh di konstelasi Leo.

Temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy ini membuat planet bernama K2-18b yang berada di zona layak huni Goldilocks tersebut menjadi kandidat terkuat dalam upaya pencarian kehidupan alien.

"Ini adalah planet berpotensi huni pertama yang temperaturnya tepat dan kini kita tahu di sana ada air. Ini adalah kandidat terbaik untuk dihuni saat ini," ujar Angelos Tsiaras, astronom di University College London (UCL), seperti dilansir dari Guardian, Rabu (11/9/2019).

Planet K2-18b pertama kali ditemukan oleh teleskop Kepler milik NASA pada 2015. Besarnya dua kali lipat Bumi sedangkan massanya 1,5 kali lipat Bumi.

Baca juga: Mengenal “Ploonet”, Bulan yang Menolak Jati Diri dan Malah Jadi Planet

Berjarak 110 tahun cahaya dari Bumi atau sekitar 650 juta juta mil (1 miliar juta kilometer), teknologi yang kita miliki sekarang tidak bisa memotret permukaannya atau mengirim wahana ke sana.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk itu, para ahli pun menggunakan teleskop berbasis luar angkasa untuk mengintip atmosfernya. Dalam kasus ini, tim peneliti dari UCL menggunakan Hubble untuk mengobservasi K2-18b. Lebih tepatnya, cahaya bintang dari planet kerdil merah yang diorbit oleh K2-18b.

Data dari delapan kejadian terpisah menunjukkan bahwa ketika K2-18b melakukan transit di depan bintangnya, gelombang cahaya yang diserap oleh air tiba-tiba turun sebelum naik lagi ketika planet tersebut sudah melewatinya.

Ini menunjukkan adanya uap air di atmosfer K2-18b, pada kadar 0,01-50 persen.

Baca juga: Gambar Thermal Ungkap Wujud Cincin Planet Uranus yang Tak Kasat Mata

Meski demikian, harus dicatat bahwa temuan ini tidak membuktikan adanya air di permukaan K2-18b. Namun, ini memunculkan harapan besar untuk pencarian kehidupan alien.

"Kita tidak mengetahui planet lain dengan temperatur yang tepat dan air di atmosfernya," ujar Tsiaras.

Dalam bahasa astronomi, K2-18b tergolong Bumi super karena ukurannya yang berada di antara Bumi dan Neptunus. Akan tetapi, manusia tidak akan bisa hidup di sana.

Sebab, kalau K2-18b punya permukaan yang keras, maka manusia tidak akan bsia berdiri karena gravitasinya jauh lebih besar daripada Bumi. Selain itu, K2-18b mendapat paparan UV yang luar biasa besar sehingga dapat memicu mutasi sel menjadi kanker.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Emisi Gas Rumah Kaca Mencapai Tingkat Rekor Tahun Lalu, Apa Dampaknya?

Emisi Gas Rumah Kaca Mencapai Tingkat Rekor Tahun Lalu, Apa Dampaknya?

Fenomena
Kadal Berkembang Biak dengan 4 Cara Berbeda, Ini Penjelasannya

Kadal Berkembang Biak dengan 4 Cara Berbeda, Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Pertama Kalinya, Astronom Deteksi Planet di Luar Galaksi Bima Sakti

Pertama Kalinya, Astronom Deteksi Planet di Luar Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Serigala Jepang Kerabat Dekat Anjing Domestik, Studi Jelaskan

Serigala Jepang Kerabat Dekat Anjing Domestik, Studi Jelaskan

Fenomena
Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Kita
Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke Dalam Tubuh sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke Dalam Tubuh sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.