Kompas.com - 12/09/2019, 16:33 WIB
DOk. KEMENRISTEKDIKTI/BONI AGUSTA DOK. KEMENRISTEKDIKTI/BONI AGUSTADOk. KEMENRISTEKDIKTI/BONI AGUSTA

"Sampai saat ini kita masih tergantung dari luar negeri, seperti Filipina dan Srilanka. Di Indonesia sangat sedikit, hanya 20 kornea yang sudah didonorkan dalam waktu 3-4 tahun. Padahal yang menunggu sangat banyak," kata Tjahjono.

Habibie menaruh perhatian pada katarak

Dalam kesempatan tiga tahun lalu, Habibie bercerita sering diajak istrinya, Hasri Ainun Habibie, untuk melihat orang dengan katarak.

Sejak saat itulah, Habibie menaruh perhatiah pada pengobatan katarak.

Katarak merupakan suatu kondisi di mana lensa mata keruh yang bisa mengakibatkan kebutaan.

Menurut Habibie, orang yang sebelumnya bisa melihat, kemudian terkena katarak akan mengalami penurunan kualitas hidup. Apalagi jika terjadi pada usia produktif.

Karena itu, Habibie mengingatkan pentingnya operasi katarak untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.

"Kalau tiba-tiba buta, Anda jadi tergantung orang lain. Produktivitas langsung anjlok. Anda tadinya mandiri, tiba-tiba jadi enggak mandiri lagi. Mau ke toilet, diantar," kata Habibie saat itu.

Menurunnya produktivitas, lanjut Habibie, membuat seseorang tak bisa memberikan sumbangsih kepada bangsa.

"Saya lama saksikan sendiri. Ada orang muda katarak. Dia seorang guru, punya keluarga. Setelah dioperasi, cepat dia bisa lihat, bekerja lagi," ujar Habibie.

Untuk itu, operasi katarak gratis dilakukan oleh Pollux Habibie International. Operasi pertama akan menjangkau pasien katarak di Batam.

Menurut Ilham, CSR ini juga dilakukan untuk meneruskan cita-cita Ainun.

Baca juga: Tidak Semenakutkan Dulu, Operasi Katarak Sekarang Tidak Perlu Dijahit

Katarak hingga saat ini masih menjadi penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, setiap tahunnya ada 1000 penderita katarak baru atau 0,1 persen.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Deddy Kuswenda mengungkapkan, Indonesia sebagai negara tropis mendapat paparan sinar ultraviolet lebih tinggi, sehingga lebih berisiko katarak. Dengan begitu, masyarakat Indonesia berisiko 15 tahun lebih cepat terkena katarak.

"Prevalensi katarak 1,8 persen yang tertinggi di Sulawesi Utara," kata Deddy.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X